Perceraian, Picu Naiknya Kasus Kekerasan Anak

Kabupaten Bima, Kahaba.- Tingginya angka kasus perceraian di Kabupaten Bima ditengarai sebagai faktor pemicu naiknya kasus kekerasan melibatkan anak. Dua bulan terakhir saja, tercatat sedikitnya 20 lebih kasus kekerasan dengan korban anak di bawah umur.

Pengurus Lembaga Perlindungan Anak (LPA) Kabupaten Bima, Syafrin. Foto: Sihap Yoko (Facebook)

Pengurus Lembaga Perlindungan Anak (LPA) Kabupaten Bima, Syafrin. Foto: Sihap Yoko (Facebook)

Hal diungkapkan Pengurus Lembaga Perlindungan Anak (LPA) Kabupaten Bima, Syafrin kepada Kahaba.net, Senin (21/11) pagi.

Syafrin menyebutkan, kasus kekerasan anak ini berupa pencabulan, pemerkosaan, persetubuhan, penganiayaan maupun anak berhadapan dengan hukum dalam kasus kriminal lainnya. Seperti terlibat kasus narkoba, pencurian, perkelahian maupun penganiayaan.

“Dua bulan terakhir trennya mengalami kenaikan drastis dibandingkan bulan-bulan sebelumnya. Bahkan bagi kami ini sangat menguatirkan,” ungkap Syafrin melalui telepon seluler.

Menurut dia, tren naiknya kasus anak ini berbanding lurus dengan tingginya angka kasus perceraian di Kabupaten Bima. Dari data yang dihimpunnya, gugatan perceraian yang masuk dan sedang ditangani di Pengadilan Agama Bima mencapai 50 kasus dalam dua bulan terakhir.

“Kami melihat, dua kasus ini sangat berkaitan. Perceraian mempengaruhi kasus anak. Sebab sebagian besar anak terlibat kasus atau berhadapan dengan hukum berasal dari keluarga tidak harmonis,” sebutnya.

Karena itu kata Syafrin, tidak bisa penanganan dan pencegahan hanya ditekankan pada anak. Namun yang lebih penting harus dilakukan juga pada tingkat keluarga. Menciptakan keharmonisan dalam keluarga dan menekan kasus perceraian patut menjadi fokus perhatian untuk penanganan.

“Dalam hal ini, peran serta dan intervensi pemerintah wajib ada untuk menekan kasus perceraian bila ingin kasus anak juga menurun,” tandasnya.

*Kahaba-03

Komentari Berita Via Facebook
Komentar adalah tanggapan pribadi, bukan mewakili kebijakan redaksi kahaba.net. Kami berhak mengubah atau tidak menayangkan komentar yang mengandung spam atau kata-kata berbau pelecehan, intimidasi, dan SARA.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *