Bahas Penimbunan Amahami, Warga Dara dan Dewan Tegang

Kota Bima, Kota Bima.- Hearing warga Kelurahan Dara dan DPRD Kota Bima soal penimbunan laut Amahami untuk pembukaan jalan baru, Selasa (22/11) berlangsung tegang. Warga Dara bersikukuh meminta agar Ketua DPRD Kota Bima menandatangi pernyataan sikap warga Dara agar timbunan itu dihentikan selama – lamanya.

Hearing anggota DPRD Kota Bima dan warga Dara soal penimbunan Laut Amahami. Foto: Noval

Hearing anggota DPRD Kota Bima dan warga Dara soal penimbunan Laut Amahami. Foto: Noval

Ketegangan dimulai saat salah seorang warga Kelurahan Dara, Suherman meminta agar Ketua DPRD Kota Bima, Feri Sofiyan yang memimpin Hearing untuk menandatangani pernyataan sikap tersebut. Namun keinginan Herman, tidak bisa dipenuhi oleh Feri, karena Feri ingin masalah tersebut harus dilakukan pengkajian dan penelusuran asal – usul laut yang diduga dimiliki secara personal oleh oknum warga di Kota Bima.

Menurut Herman, penimbunan laut tersebut cacat secara administrasi dan hukum. Pihaknya pun meminta agar penimbunan itu tidak dilanjutkan. Karena penimbunan tidak jelas, sebab keberadaan itu sama halnya melegalkan adanya kepemilikan secara personal laut tersebut.

“Saya mewakili warga Kelurahan Dara melihat penimbunan itu masih terus dikerjakan. Makanya, kami sudah membuat pernyataan sikap dengan seluruh warga Kelurahan Dara, agar penimbunan dihentikan selama – lamanya,” tegas Herman.

Namun, permintaan Herman tidak ditanggapi oleh Ketua DPRD Kota Bima. Alasannya, Feri meminta agar warga memberi waktu kepada anggota dewan untuk menelusuri persoalan tanah tersebut.

“Kami tidak bisa mengambil keputusan untuk menandatangi pernyataan sikap ini. Beri dulu kami waktu untuk menelusuri masalah ini dengan memanggil pihak- pihak terkait,” tegasnya.

Saat hearing, hanya persoalan itu saja yang dibahas berulang – ulang. Tapi tetap saja Feri tidak ingin menandatangi pernyataan sikap tersebut.

Suasana tegang pun tak bis dihindari. Herman dan sejumlah warga lain berbicara dengan nada keras. Namun, anggota dewan tetap sabar meladeni aspirasi warga setempat. Karena belum ada kesimpulan, hearing tersebut akhirnya diakhiri dan warga pulang dengan mengancam untuk hentikan pekerjaan.

*Kahaba-01

Komentari Berita Via Facebook
Komentar adalah tanggapan pribadi, bukan mewakili kebijakan redaksi kahaba.net. Kami berhak mengubah atau tidak menayangkan komentar yang mengandung spam atau kata-kata berbau pelecehan, intimidasi, dan SARA.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *