LDK STISIP Turun ke Jalan, Tolak Masjid Terapung Amahami

Kota Bima, Kahaba.- Penolakan pembangunan Masjid Terapung Amahami kini disuarakan Unit Kegiatan Mahasiswa Lembaga Dakwah Kampus (UKM-LDK) STISIP Mbojo Bima. Tidak sepakat rencana pembangunan tersebut, mahasiswa setempat turun kejalan, Senin (19/12).

LDK STISIP saat gelar aksi tolak Masjid Terapung Amahami di Kantor DPRD Kota Bima. Foto: Deno

Massa menggelar aksi demonstrasi di Kantor DPRD Kota Bima dan Kantor Pemkot Bima. Mereka menyayangkan kebijakan pembangunan masjid tersebut, karena hanya membuang anggaran. Sementara Masjid Agung Almuwahiddin yang berada dijantung kota, tergeletak dan minim perhatian.

“Apa pentingnya membangun Masjid Terapung Amahami itu, sementara masih banyak Masjid dan Mushola yang juga butuh perhatian. Belum lagi Masjid Agung yang hingga saat ini tidak maksimal diurus,” sorot Koordinator aksi Arif Rahman.

Puluhan kader LDK itu juga menuntut agar Walikota dan DPRD Kota Bima segera mengambil sikap dan tindakan terkait pembanguna Masjid Agung. Meminta pelaksana proyek Masjid agung agar segera memasang papan informasi anggaran proyek.

“Pembangunan Masjid Agung sampai hari ini tidak ada kejelasan. Papan proyek pun tidak pernah dipasang, anggaran yang dikucurkan Pemerintah Kota hingga miliaran rupiah dari APBD juga tidak jalas arah penggunaanya,” ungkapnya.

Bahkan, pihaknya menduga telah terjadi konspirasi yang dilakukan oleh oknum pegawai Pemkot Bima dengan pihak tertentu dalam pengelolaan anggaran pembangunan masjid Agung tersebut. Karena anggaran yang dikucurkan tidak terlihat tanda – tanda adanya kemajuan pembangunan.

Pada kesempatan itu, massa juga menolak pembangunan Masjid Terapung Amahami sebelum Masjid Agung selesai dikerjakan. Karena icon kembanggaan warga Bima adalah Masjid Agung, bukan Masjid Terapung Amahami.

*Kahaba-05

Komentari Berita Via Facebook
Komentar adalah tanggapan pribadi, bukan mewakili kebijakan redaksi kahaba.net. Kami berhak mengubah atau tidak menayangkan komentar yang mengandung spam atau kata-kata berbau pelecehan, intimidasi, dan SARA.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *