Tidak Dapat Uang Rp 500 Ribu, Korban Banjir ini Protes

Kota Bima, Kahaba.- Funy Agustina didampingi suami Muhajir mempertanyakan sikap pemerintah yang tidak turut memberikan bantuan Rp 500 ribu. Padahal saat banjir bandang yang terjadi dua kali, air menggenangi rumah mereka mencapai dua meter.

Ilustrasi

“Masyarakat semua tahu, banjir masuk rumah mencapai dua meter. Bahkan untuk membersihkan lumpur dan perabotan yang telah rusak, butuh waktu dua minggu,” kesal Funy warga Kelurahan Penaraga RT 10 RW 04 Kecamatan Raba kepada kahaba.net, Kamis (5/1).

Ia mempertanyakan bagaimana bisa bantuan sebagai ganti untuk membersihkan rumah, tidak diberikan kepada mereka. Padahal sudah nyata, kediaman mereka hampir tenggelam.

Funy menganggap, bantuan tersebut sangat membantu meskipun nominalnya tidak terlalu besar. Karena bisa digunakan untuk membeli keperluan rumah tangga, dan memperbaiki alat elektronik yang sudah rusak.

“Kami hanya ingin keadilan. Sebab sepengetahuan kami, warga yang tinggal disekitar rumahnya justeru mendapatkan mendapatkan, lalu kenapa saya tidak,” sorotnya.

Bahkan saat dirinya ,e,pertanyakan kepada warga yang membagikan, kenapa mereka tidak mendapatkan bantuan, hanya diawab akan diberikan dihari kemudian.

Untuk itu, sebagai bentuk ketidakpuasan akan sikap aparatur pemerintah dan bawahannya. Ia akan segera melaporkan kepada Pemerintah Kota Bima.

“Kami minta Pemerintah Kota Bima turun tangan, kami hanya inginkan keadilan dan pemerataan,” inginnya.

Sementara itu, Lurah Penaraga Abdul Hamid yang dimintai tanggapan mengaku akan mengecek dan mencocokan kembali data nama warga, agar tidak terjadi kekeliruan dan kesalahpahaman.

“Saya akan turun kroscek langsung, dengan memanggil RW setempat. Bila terlewatkan, maka bantuan harus segera diberikan untuk korban banjir,” tegasnya.

*Kahaba-04

Komentari Berita Via Facebook
Komentar adalah tanggapan pribadi, bukan mewakili kebijakan redaksi kahaba.net. Kami berhak mengubah atau tidak menayangkan komentar yang mengandung spam atau kata-kata berbau pelecehan, intimidasi, dan SARA.

Tinggalkan Balasan

Alamat surel Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *