Banjir Tiga Kali Setahun, Warga Paruga: Kami Lelah

Kota Bima, Kahaba.- Kelurahan Paruga tepatnya di Lingkungan Kampung Sigi, menjadi daerah langganan meluapnya banjir. Dalam setahun, warga di kampung itu selalu sibuk dengan urusan bersih – bersih sisa banjir.

Jauhar dan Mon warga Kampung Sigi Paruga disela-sela membersihkan sisa banjir kemarin malam. Foto: Bin

Di Kelurahan itu, berurusan dengan banjir seolah menjadi aktifitas rutin. 3 kali setahun, air sungai meluap menyasar di pemukiman warga. Merendam barang – barang penting, setelah itu meninggalkan sampah dan lumpur.

Warga setempat pun mengaku sudah lelah dengan urusan banjir. Jika langit sudah dipenuhi awan gelap, resah tiba-tiba muncul dan mengerakan fisik untuk segera mengantisipasi dan selamatkan perkakas rumah. Menyimpannya ditempat yang lebih tinggi, agar tidak terendam lumpur.

Rafi’in, warga setempat yang rumahnya tepat berada dibantaran sungai mengaku, banjir seolah menjadi teman hidup. Bersua tiap tiga kali dalam setahun dan mengurusnya agar tidak memenuhi halaman serta isi rumah.

“Setiap tahun hanya itu yang kami kerjakan. Bergumul dengan lumpur, membersihkan lantai dan perkakas rumah tangga yang terendam banjir. Kami sudah lelah dengan urusan ini,” katanya, Jumat (14/1) disela-sela membersihkan sisa banjir yang meluap di rumahnya.

Menurut Rafi’in, warga di lingkungannya rutin menerima kedatangan banjir. Tiga kali setahun, banjir meluap ke pemukiman mencapai betis orang dewasa. Hanya saja, banjir akhir Desember kemarin yang terbilang besar. Barang – barang rumah tak ada yang bisa diselamatkan.

Pernyataan Rafi’in juga diamini oleh Mon, warga setempat. Kata dia, warga Lingkungan Kampung Sigi sudah bosan dengan kondisi rumah yang setiap tahun berantakan karena terdampak banjir. Seolah, sisa hidup hanya dihabiskan untuk mengurus kedatangan banjir.

“Warga disini sudah capek. Apalagi saat musim hujan, pekerjaan hanya mengurus dan membersihkan sisa banjir,” keluhnya.

Kata Mon, ingin rasanya beranjak dan pindah mencari tempat tinggal yang lebih aman dari terpaan banjir. Tapi kondisi yang tidak memungkinkan. Harga tanah yang sangat mahal di Kota Bima mengurungkan niatnya untuk meninggalkan kampung halaman.

Kini ia bersama keluarga dan warga sekitar hanya bisa pasrah. Setiap tahun menghadapi kedatangan banjir dan beraktifitas rutin, menghalau kedatangannya, menyelamatkan perkakas rumah tangga dan membersihkan dari lumpur.

Namun, warga setempat tak hentinya berharap kepada pemerintah daerah untuk memperhatikan kondisi tersebut. Tidak saja masalah sungai yang harus dinormalisasi. Tapi juga membuat bendungan besar di wilayah timur dan utara Kota Bima, agar bisa menampung banjir kiriman dari Wawo dan Wera Kabupaten Bima.

Seperti keinginan Jauhar, hanya normalisasi sungai yang bisa meminimalisir meluapnya banjir di pemukiman. Selain membuatnya lebih lebar, juga bisa dikeruk lebih dalam. Sebab, banjir muncul karena sungai tidak lagi mampu menampung air bah kiriman dari Kabupaten Bima.

“Syukur pemerintah bisa membuat bendungan besar. Jika itu terwujud, Insha Allah banjir tidak akan lagi meluap,” ucapnya.

Untuk itu sambung Jauhar, setelah bencana banjir dua kali yang menimpa Kota Bima. Warga Kota Bima, khususnya di Kampung Paruga berharap pemerintah memiliki keberanian untuk bisa cepat bergerak menormalisasi sungai dan membangun bendungan besar. Jika tidak, maka banjir tetap akan menjadi ancaman serius.

*Kahaba-01

Komentari Berita Via Facebook
Komentar adalah tanggapan pribadi, bukan mewakili kebijakan redaksi kahaba.net. Kami berhak mengubah atau tidak menayangkan komentar yang mengandung spam atau kata-kata berbau pelecehan, intimidasi, dan SARA.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *