Pemuda Samili Aksi Kumpul Koin untuk Pindah Kantor Pemda Bima

Kabupaten Bima, Kahaba.- Belasan pemuda asal Desa Samili Kecamatan Woha Kabupaten Bima menggelar aksi kumpul Rp 100 Miliar koin untuk pemindahan ibu kota Kabupaten Bima, untuk segera menempatkan kantor baru di Dusun Godo Desa Dadi Bou.

Warga Samili saat kumpulkan koin di jalan. Foto: Al Jalal Sama Ila (Facebook)

Pemuda Samili, Al Jalal Sama Ila mengungkapkan, aksi kumpul koin rencananya akan diserahkan kepada Pemerintah Kabupaten Bima sebagai manifestasi kewajiban warga negara dalam membantu percepatan pemindahan Ibu Kota Kabupaten Bima.

“Kami hanya ingin Ibu Kota kami segera dipindahkan, agar para pegawai dan pejabatnya segera menempati kantor baru,” ungkapnya.

Partisipasi sekelompok pemuda dari Kampung Kumuh Desa Samili ini lanjutnya, karena sangat merindukan kedamaian, kesejahteraan dan keramahan Kabupaten Bima yang selalu dianggap sebagai zona merah di Indonesia.

“Melalui gerakan ini, kami berharap kepada pemerintah Kabupaten Bima bisa menerima bantuan ini guna mempercepat pemindahan Ibu Kota Kabupaten Bima,” ujarnya.

Sebagai warga Kabupaten Bima tambahnya, sudah seharusnya bersuara dan tidak hanya menerima hak dari pemerintah saja. Tapi, ini merupakan kewajiban yang harus dilakukan demi Kabupaten Bima.

“Kami akan terus lakukan pengumpulan koin ini untuk Kabupaten Bima,” tuturnya.

Dalam akun Facebooknya, Al Jalal Sama Ila menyampaikan rasa terimkasihnya kepada pemuda samili lainnya, seperti Tarmiji, Taufan, Firkan, Bukhari, Sahrul, Mawardin, Mawardin, Fadil dan Irawan. Pemuda-pemuda tangguh inilah yang telah berjuang untuk Pemerintah Kabupaten Bima dengan mengumpulkan anggaran guna mempermudah Pemerintah Kabupaten Bima segera pindah.

“Insha Allah, perjuangan kita pasti akan memiliki hasil,” katanya.

*Kahaba-02

Komentari Berita Via Facebook
Komentar adalah tanggapan pribadi, bukan mewakili kebijakan redaksi kahaba.net. Kami berhak mengubah atau tidak menayangkan komentar yang mengandung spam atau kata-kata berbau pelecehan, intimidasi, dan SARA.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *