Innalillahi, Usai Bantu Korban Banjir Bima, Relawan ACT Banyuwangi Meninggal

Kota Bima, Kahaba.- Innalillahi wa inna ilaihi raji’un. Kabar duka menyelimuti keluarga besar Lembaga Kemanusiaan Aksi Cepat Tanggap (ACT). Salah seorang relawan terbaik mereka asal Kota Banyuwangi Jawa Timur  bernama Mohammad Masrul Rohimahullah dipanggil Sang Maha Esa, Selasa (24/1) lalu.

Mas Irul saat membersihkan salah satu sekolah terdampak banjir di Kota Bima. Foto: Istimewa

Almarhum yang biasa disapa Mas Irul ini menghembuskan napas terakhir di rumah setempat setelah beberapa hari dirawat. Menurut informasi dari rekan sesama relawan ACT, kondisi kesehatan Mas Irul menurun karena terlalu capek usai membantu korban banjir di Kota Bima.

Seperti dikutip dari website https://act.id, pengabdian terakhir Mas Irul terekam nyata di Kota Bima, Nusa Tenggara Barat. Akhir Desember kemarin, Bima nyaris lumpuh diterjang banjir dua kali berturut-turut. Saat itulah, Mas Irul mendapatkan tugas untuk berangkat ke Bima melakoni tugas mulia sebagai relawan kemanusiaan.

Khairul Juhdy, relawan ACT asli Bima tak pernah lupa fragmen-fragmen kisah pertemuannya pertama kali dengan Mas Irul. Ia berkisah, Mas Irul datang ke Bima menggunakan bus dari Banyuwangi menuju Denpasar. Dari Denpasar, beliau menumpang pesawat langsung menuju Bandara Sultan Muhammad Salahudin, Bima.

“Tiba di posko ACT banjir Bima, posko masih dalam kondisi serba tanggap darurat, aktivitasnya lebih banyak menguras fisik. Tapi hari itu Mas Irul langsung turun tangan ikut bersih-bersih lumpur Puskesmas Paruga, padahal beliau baru saja tiba. Bahkan Mas Irul sempat memberikan bantuan logisitk untuk warga, secara khusus bantuan itu Ia bawa sendiri dari Jawa,” kenang Juhdy.

Esok harinya, hari kedua mas Irul di Kota Bima, beliau ikut aksi tim medis pelayanan kesehatan di SDN 16 Kota Bima. “Sepulang dari itu, Mas Irul mengeluhkan rasa sakit pada perutnya. Saya hanya bilang mungkin salah makan. Tapi beliau menjawab tidak apa-apa. Malamnya kondisi Mas Irul berubah semakin sulit, Ia lima kali buang air besar. Akhirnya kami memutuskan untuk menginfus Mas Irul,” kata Juhdy.

Mas Irul saat menyerahkan bantuan untuk korban banjir di Kota Bima. Foto: Istimewa

Sampai 24 jam berikutnya, kondisi Mas Irul masih pucat namun beliau meminta untuk dicabut saja selang infusnya. “Pagi itu juga, setelah infus dilepas, Mas Irul langsung turun ikut aksi tim bersih-bersih di kawasan Penatoi. Dengan troli Mas Irul bolak-balik angkut lumpur. Tidak ada sedikitpun wajah lelah. Sesekali teman-teman menggoda, tapi beliau hanya tersenyum ramah sekali,” lanjut Juhdy berkisah.

Namun, mengingat kondisi Mas Irul yang belum sepenuhnya pulih, Mas Irul akhirnya memilih untuk pulang lebih awal kembali ke Banyuwangi. Sampai akhirnya beberapa hari lalu, Juhdy mendapat kabar Mas Irul dirawat di rumah sakit karena dugaan gejala tipus.

“Saya pikir hanya karena kelelahan, tapi rupanya Allah berkehendak lain,” ujar Juhdy.

Saat-saat terakhir ketika dirawat di rumah sakit, Mas Irul pun sempat memberikan kenangan tak terlupa untuk Agung, rekan sesama relawan ACT almarhum yang mengajaknya bergabung. Jumat (20/1) satu pekan lalu, adalah momen penutup Agung dengarkan suara beliau.

Pagi itu, Agung bercerita Ia menerima telepon dari Mas Irul. “Isinya permohonan doa agar selalu diberikan kekuatan dan kesembuhan. Dengar tegar pula beliau berkata kesiapannya untuk diamputasi tangan kirinya bila itu memang pilihan terbaik yang dilakukan oleh dokter, tidak ada kata ragu yang diucapkan Mas Irul,” kenang Agung.

Sepuluh tahun silam, Mas Irul pernah mengalami kecelakaan. Sesuai prediksi dokter, berawal dari kecelakaan itu mulai tumbuh sebuah tumor di tangan kirinya. Dari tumor kemudian perlahan menghantam tubuhnya selama bertahun-tahun terakhir. Sampai akhirnya paru-paru Mas Irul makin rapuh menggoyahkan kondisi fisik beliau.

Meski sakit menahun, Agung pun masih mengingat dengan jelas perjuangan kawannya itu bergegas menggunakan motor bebek kesayangan beliau, pergi menunaikan tugas-tugas dakwah lintas Kecamatan Kalibaru sampai ke Banyuwangi.

“Jarak 60 km sampai 70 km terasa dekat bagi Mas Irul, naik motor menyelesaikan panggilan tugas dakwah bahkan bila hujan maupun malam hari sekalipun,” kenangnya.

Puncaknya saat dikirim ke Bima kemarin, walau sudah ada tanda-tanda kurang sehat, Mas Irul tetap berazam untuk berangkat hingga kemudian kondisinya makin melemah. “Beliau harus pulang lebih awal, dan akhirnya kabar duka itu datang,” ungkap Agung.

Selamat jalan Mas Irul, mujahid relawan dakwah yang tangguh bukan main. Pengabdian dan ikhtiarmu sudah usai. Doakan Kami, kawan-kawanmu bisa meneruskan semangat dan cita-citamu. Semoga di lain hari negeri ini dapat memunculkan lagi relawan-relawan dengan dedikasi dan pengabdian luar biasa seperti dirimu.

“Selamat jalan sahabat, ragamu beristirahat, tapi semangat mu akan selalu menjadi sumber motivasi dan penyemangat kami, para relawan di indonesia,” pungkas Agung menutup kenangan baik dengan Mas Irul.

*Kahaba-03

Komentari Berita Via Facebook
Komentar adalah tanggapan pribadi, bukan mewakili kebijakan redaksi kahaba.net. Kami berhak mengubah atau tidak menayangkan komentar yang mengandung spam atau kata-kata berbau pelecehan, intimidasi, dan SARA.
  1. Panca Irawan

    Insyaa Allah khusnul khotimah, Mas Irul sudah membuktikan bahwa kebaikan dapat meredam rasa sakit yang ia rasakan selama beberapa tahun terakhir. Diakhir hidupnyapun ia habiskan dengan aksi menebar kebaikan, selamat jalan Mas Irul, insyaa allah amalan baikmu akan kami teruskan sebagai amal jariyah. Salam relawan tangguh

  2. Tina

    Innalilahiwainnailaihiroziun
    Slamat jalan Mas Smoga Amal Ibadah di trima Oleh Allah SWT ditempatkan di surgaNya, keluarga yg ditin?gal tabah dan ikhlas, trimakasih kami warga kota bima, kami merasa kehilangan Al Fatihah.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *