‘Perang Saudara’ di Kecamatan Soromandi

Kabupaten Bima, Kahaba.- Dua desa di Kecamatan Soromandi terlibat bentrokan, Sabtu sore (15/9) di Dusun Sarita, Desa Punti. Sabtu malam ini pun, keadaan kian mencekam. Dua desa terlihat saling mempersiapkan diri dengan berbagai senjata untuk mengantisipasi terjadinya bentrokan susulan. Bentrokan ‘saudara’ itu terjadi antara Desa Bajo dan Dusun Sarita Desa Punti.

Ilustrasi

Pemicu kejadian diawali dari pengerusakan motor warga Bajo, Nstn (20), saat apel malam minggu lalu (8/9) di rumah Fdnt (17) di dusun Sarita. Saat itu, sempat ada acara malam, orgen tunggal di lapangan Sarita. Mungkin karena lewat jam 10 malam, beberapa pemuda Sarita merobek sadel motor Nst dengan sebilah pisau.

Dari keterangan warga yang enggan disebutkan namanya, mungkin Nst tak menerima diperlakukan seperti itu terhadap motor kesayangannya. Imbas kejadian itu, sekelompok pemuda Bajo menghadang tiga sepeda motor warga Sarita yang ingin pulang ke rumahnya. Kejadian yang berlangsung di Malam Minggu (8/9) lalu itu pun mengakibatkan salah satu motor warga Sarita rusak dan seorang terluka, sedangkan dua pengendara lainnya menghindar dan jalan pulang melalui jalur atas lewat Kecamatan Donggo dan turun di Desa Wadukopa.

 Mungkin saja bukan itu persoalan yang melatarbelakangi bentrokan malam  ini, ungkap sumber Kahaba itu. Perseteruan dua dusun itu sudah sering terjadi dan pelakukanya rata-rata anak SMA dan SMP. Jarak dua dusun itu hanya sekitar 10 KM. Sebelumnya, bentrokan antara siswa Bajo dan siswa Sarita memang sering terjadi di SMA Soromandi, di mana batas dua dusun itu. “Mungkin juga ini persoalan dendam lama anak-anak sekolah itu,” ujarnya.

Warga Sarita yang enggan disebutkan namanya ketika di konfirmasi Kahaba menjelaskan, Sabtu sore (15/9), bentrokan kembali terjadi. Warga Bajo yang pulang main bola di Desa Wadukopa kembali dihadang sekelompok pemuda Sarita. “Awalnya, udah ada pihak yang mengabarkan Warga Bajo bahwa mereka ditunggu sekelompok pemuda Sarita. Namun, warga Bajo tak menghiraukan himbauan itu dan tetap memilih jalan pulang lewat Sarita dari pada harus melalui jalur puncak Donggo yang lima kali lipat jauhnya, apalagi itu sudah mau masuk malam.

Bentrokan tak dapat dihindari. Warga Sarita yang siap menghadang itu memukul salah seorang pengendara motor asal Desa Bajo dan motornya dirusak. Tak menerima  perlakuan itu, sambil melarikan diri, pengendara warga Bajo yang lain melempari salah satu rumah warga Sarita di ujung selatan pemukiman warga Sarita.

“Dua dusun di desa itu rata-rata saling memiliki keluarga dekat, bahkan saudara kandung dan rata-rata masih satu nenek dan buyut. Ulah sekelompok anak SMP/SMA yang selalu menjadi provokator bentrokan antar dusun itu. Padahal, Kami telah memberi pengertian bahkan sering memukulii jika mereka suka mengganggu orang, apalagi sesama Soromandi atau Donggo. Tapi, anak-anak itu tak pernah mendengar saran para orang tuanya, Saya sendiri heran ulah sebahagian anak-anak kecil zaman sekarang, hobinya berkelahi saja,” keluhnya. [BM]

Komentari Berita Via Facebook
Komentar adalah tanggapan pribadi, bukan mewakili kebijakan redaksi kahaba.net. Kami berhak mengubah atau tidak menayangkan komentar yang mengandung spam atau kata-kata berbau pelecehan, intimidasi, dan SARA.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *