Kepala LPMP Desak Polisi Tangkap Pelaku Pembunuhan Siswa SMEA Bima

Kota Bima, Kahaba.- Pembunuhan siswa SMKN 1 Kota Bima (SMEA Bima) Asrul yang terjadi disekitar lingkungan sekolah merupakan tindakan kejahatan serius. Padahal, sekolah mestinya menjadi tempat yang aman dan terbebas dari ancaman maupun kekerasan. (Baca. Siswa SMEA Bima Tewas Ditikam)

Kepala LPMP Provinsi NTB H. Moh Irfan. Foto: Bin

Kasus pembunuhan yang diduga dipicu persoalan asmara itu akhirnya menjadi perhatian serius Kepala Lembaga Penjamin Mutu Pendidikan (LPMP) Provinsi NTB H. Moh Irfan. Dirinya pun meminta kepada aparat penegak hukum untuk secepatnya menangkap 6 orang pelaku tersebut. (Baca. Kasus Siswa SMEA Bima Dipicu Masalah Asmara)

“Atas nama Kemendikbud saya menyesalkan dan prihatin atas yang terjadi pada anak-anak kita. Polisi secepatnya mencari pelaku, menangkap serta dihukum berat,” pintanya saat menghubungi Kahaba.net, Jumat (17/2).

Menurut Irfan, kejadian kekerasan yang berujung kematian pelajar tersebut tidak boleh dibiarkan.  Karena semua berkewajiban menjaga dan mengawal generasi, karena mereka adalah investasi bagi negeri ini.

“Saya mengutuk keras tindakan kekerasan ini. Kasus ini merupakan tindak kriminal yang serius dan harus ditindak secara serius pula oleh aparat,” tegasnya.

Dia menilai, hadirnya kasus kekerasan di sekolah maupun disekitar sekolah menjadi cerminan kolaborasi dan komunikasi antara warga sekitar dan sekolah yang belum kuat. Jika itu masih terjadi, maka sekolah tidak lagi menjadi rumah kedua yang sehat bagi tumbuh kembangnya generasi.

Untuk itu kata Irfan, di sekitar sekolah juga harus menjadi tempat yang bebas dari tindak kriminalitas dan kekerasan.

“Kasus ini menjadi tamparan keras untuk pendidikan di Kota Bima. Kami berharap kejadian seperti ini menjadi kasus kekerasan yang terakhir kali,” harapnya.

*Kahaba-01

Komentari Berita Via Facebook
Komentar adalah tanggapan pribadi, bukan mewakili kebijakan redaksi kahaba.net. Kami berhak mengubah atau tidak menayangkan komentar yang mengandung spam atau kata-kata berbau pelecehan, intimidasi, dan SARA.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *