Tuntut Transparasi Pengelolaan Dana Haji, Kemenag Didemo

Kota Bima, Kahaba.- Kantor Kementerian Agama Kabupaten Bima diguncang aksi demonstrasi Senin (16/9) siang. Puluhan massa yang menamakan dirinya Pusat Advokasi Haji (Pusaka Indonesia) menuntut adanya transparansi pendaftaran jemaah haji serta dalam pengelolaan keuangan yang melibatkan Kemenag dan lembaga perbankan.

Kemenag Kabupaten Bima didemo Pusat Advokasi Haji (Pusaka Indonesia) berkaitan masalah dana haji / foto: Bin

Demonstran mendatangi kantor Kemenag tepat pada pukul 11.00 wita dengan menggunakan kendaraan angkutan umum dan sepeda motor dan langsung menyampaikan aspirasinya dibawah pengawalan ketat puluhan aparat kepolisian.  Dalam orasi  yang disampaikan oleh koordinator lapangan, Agus Fahrin, Pusaka Indonesia mengutuk Kemenag, dimana  institusi yang berwenang terhadap permasalahan ibadah haji ini menyimpan dana para Calon Jemaah Haji (CJH)  pada bank yang menerapkan sistem bunga/riba.

Selain itu massa menuntut penghapusan sistem daftar tunggu (waiting list) bagi pendaftaran haji. Waiting list, seperti yang disampaikan Agus, merupakan akal-akalan agar dana umat mengendap lebih lama dan berbunga di bank yang mana keuntungannya dinikmati oleh segelintir orang di instansi Negara ini. “Kami menolak keras segala bentuk komersialisasi atas nama agama untuk menyedot dan menumpuk dana para calon jemaah haji,” tuntut Agus.

Permasalahan dana haji, menurutnya bukan terjadi pada tahun ini saja. Pusaka Indonesia mengungkap bahwa terjadi indikasi penyimpangan keuangan yang berasal dari bunga atas setoran awal para CJH sejak tahun 2009 sampai sekarang. Untuk itu KPK didesak untuk segera mengusut tuntas hal tersebut agar umat muslim yang memiliki niat ibadah di tanah suci tidak lagi dijadikan ladang korupsi bagi oknum di Kemenag.  [BS]

Komentari Berita Via Facebook
Komentar adalah tanggapan pribadi, bukan mewakili kebijakan redaksi kahaba.net. Kami berhak mengubah atau tidak menayangkan komentar yang mengandung spam atau kata-kata berbau pelecehan, intimidasi, dan SARA.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *