Warga Hidup di Tenda Diminta Tinggal di Rusunawa

Kota Bima, Kahaba.- Sejumlah warga yang masih memilih hidup di tenda pasca banjir tiga bulan lalu, diminta untuk sementara waktu tinggal di Rusunawa. Sembari menunggu proses relokasi dan pembangunan pemukiman warga korban banjir rampung. (Baca. Pasca Banjir, 4 Kepala Keluarga  ini Masih Hidup di Tenda)

Pelaksana tugas (Plt) Sekda Kota Bima Muhtar Landa. Foto: Bin

Pelaksana tugas Sekda Kota Bima Muhtar Landa menjelaskan, warga yang rumahnya hanyut dibawa bawa banjir akan disiapkan rumah oleh pemerintah pada lahan relokasi. Saat ini, proses relokasi sedang diupayakan.

“Kami berharap, untuk sementara warga yang hidup di tenda bisa tinggal di Rusunawa. Sambil menunggu proses relokasi selesai,” katanya, Kamis (23/3).

Apabila warga yang hidup di tenda ingin tinggal di Rusunawa, maka pemerintah tidak akan memungut biaya.

“Yang siap mau tinggal sekarang, langsung ke sana saja. Tidak dikenakan biaya juga, karena sifatnya untuk sementara,” ujarnya.

Menurut Muhtar, Rusunawa menjadi solusi alternatif. Karena pemerintah juga tidak ingin melihat warganya harus tinggal di tenda. Pemerintah juga tidak  bisa berbuat banyak karena kendala anggaran. Untuk itu, pihaknya berharap kepada warga bisa memahami kondisi saat ini.

Dijelaskannya, relokasi rumah nanti tidak sedikit. Kementrian PUPR juga sudah menyiapkan anggaran untuk membangun pemukiman warga dilahan relokasi. Tinggal menunggu proses persiapan lahan dari Pemerintah Kota Bima.

“Rencana relokasi nanti ada dibeberapa tempat. Seperti di Ule milik Pemerintah Provinsi NTB, Kelurahan Sambinae, Oi Fo’o, Rabadompu Timur dan Ndano Nae,” sebutnya,

Untuk itu, dalam waktu dekat pihaknya akan mengajak lurah untuk memberikan pemamahan kepada warga yang masih hidup di tenda, untuk segera ke Rusunawa.

*Kahaba-01

Komentari Berita Via Facebook
Komentar adalah tanggapan pribadi, bukan mewakili kebijakan redaksi kahaba.net. Kami berhak mengubah atau tidak menayangkan komentar yang mengandung spam atau kata-kata berbau pelecehan, intimidasi, dan SARA.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *