Tolak Festival Tambora, Spanduk 1 Kilometer Akan Dibentangkan

Kota Bima, Kahaba.- Penyelenggaraan even nasional Festival Pesona Tambora (FPT) 2017 menuai kritikan dan protes dari banyak kalangan di Propinsi NTB, khusunya di Bima. Berawal dari kontroversi iklan FPT yang dimuat sebuah media nasional, isinya justru memuat gambar Gunung Kalimutu di NTT.

Rapat konsolidasi terkait aksi penolakan FPT 2017. Foto: Ady

Belakangan iklan itu diperbaiki, tetapi malah tambah salah karena bukan Gunung Tambora yang dimuat melainkan Gunung Bromo. Hal ini memunculkan reaksi dan ketersinggungan dari masyarakat di NTB.

Agenda tahunan yang rencananya akan digelar mulai Tanggal 5 hingga 11 April 2017 ini pun ditolak keras sejumlah pemuda lintas organisasi di Bima bernama Aliansi Penolakan Perayaan Pesona Tambora (AP3T).

Sebagai bentuk sikap penolakan tersebut, akan ada aksi membentangkan spanduk sepanjang 1 kilometer di sepanjang Jalan Kota Bima. Spanduk ini rencananya akan digunakan untuk menggalang dukungan tandatangan dari masyarakat Bima untuk menolak dan memboikot even FPT.

Koordinator Aksi, Ardiansyah saat konsolidasi rencana aksi di Halaman Museum ASI Mbojo, Selasa (4/4) siang menegaskan, munculnya reaksi penolakan disebabkan karena dugaan pelecehan Even Organizer (EO) FPT terhadap ikon sejarah Bima-Dompu yakni Gunung Tambora.

“Pemuatan iklan dengan gambar gunung lain oleh EO di salah satu media nasional telah melecehkan masyarakat Bima,” ujarnya.

Pihak EO didesak harus meminta maaf secara terbuka kepada seluruh masyarakat NTB, khususnya Pulau Sumbawa melalui media massa atas keteledoran yang dituding sengaja dilakukan itu. Begitu pula pihak terkait, seperti Kementerian Pariwisata mulai dari pusat hingga daerah diminta bertanggungjawab.

“Kami dari elemen lintas organisasi akan turun aksi. Pembagian pamflet dan tandatangan dukungan spanduk boikot Festival Tambora sepanjang 1 Kilometer beberapa hari ke depan,” terangnya.

Ketua Forum Pengurus Karang Taruna (FPKT) Kota Bima, Amirudin juga secara tegas menyorot masalah tersebut hingga ada pihak yang bertanggungjawab dan meminta maaf.

“Kami sebagai masyarakat Bima merasa dilecehkan dan memboikot segala rangkaian even FPT,” tegasnya.

Kritikan tajam juga disampaikan Ketua Dewan Kesenian Kota Bima, Husain La Odet. Tak hanya soal gambar Gunung Tambora, pria yang juga pemerhati budaya ini mengakui, sejak tahun pertama sudah lantang mengkritisi penyelenggaraan FPT.

Sebab menurutnya, even nasional ini hanya menghamburkan uang negara dan tidak ada manfaat sosial maupun ekonomi, terutama bagi masyarakat sekitar Gunung Tambora.

“Kalau even besar seperti ini tidak melibatkan masyarakat lokal, maka apa tujuannya. Itu konyol namanya, karena masyarakat hanya jadi penonton,” kata dia.

Melihat rangkaikan FPT selama tiga tahun berturut-turut, Odet menilai Gunung Tambora pada akhirnya hanya jadi dagangan dan jualan pariwisata para elit birokrasi. Hanya menghamburkan uang miliaran, tetapi tidak ada efek langsungnya untuk masyarakat di daerah.

“Dewan Kesenian Kota Bima menolak secara keras Festival Tambora. Karena tidak memberikan pembelajaran ekonomi, pariwisata dan budaya untuk masyarakat.  Terlalu ekslusif, kegiatan dari mereka, digelar mereka dan dinikmati mereka pula,” kritiknya.

Ia menambahkan, Dewan Kesenian Dompu dan Sumbawa juga telah lebih dulu menyatakan penolakan terhadap FPT. Ode pun siap mendukung aksi penggalangan tandatangan boikot FPT melalui spanduk sepanjang 1 kilometer.

*Kahaba-03

Komentari Berita Via Facebook
Komentar adalah tanggapan pribadi, bukan mewakili kebijakan redaksi kahaba.net. Kami berhak mengubah atau tidak menayangkan komentar yang mengandung spam atau kata-kata berbau pelecehan, intimidasi, dan SARA.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *