Bedah Fiqh Jihad, FKUB Hadirkan Kelompok JAT

Kota Bima, Kahaba.- Pemahaman tentang tafsir jihad yang keliru, selama ini dituding menjadi penyebab munculnya aksi kelompok teroris dan kelompok radikal. Ormas Islam yang kerap mendapat label tudingan radikal di Indonesia itu adalah Jamaah Ansharut Tauhid (JAT).

Kegiatan Talk Show Bedah Fiqh Jihad. Foto: Istimewa

Untuk mendudukan istilah jihad pada makna sebenarnya, Forum Kerukunan Umat Beragama (FKUB) Kota Bima menggelar Talk Show dengan tema ‘Bedah Fiqh Jihad’ di aula kantor setempat, Kamis (6/4) pagi.

Kegiatan ini menghadirkan Amir JAT Bima, Ustad Muhammad Jaidun dan Pengurus MUI Kota Bima, Ustad Muhammad Adnin sebagai narasumber, sedangkan Panelis (Pembanding), Sudirman H Makka yang juga penulis buku tentang Jihad.

Melaksanakan kegiatan Talk Show untuk membedah Fiqh Jihad lintas Ormas Islam. Yang hadir Muhammadiyah, Kemenag, MUI, Persis, NU, NW, Brigade Masjid, JAT Bima.

Ada beberapa poin dari kegiatan, pertama kita ingin melihat dan merekomendasikan hasil kesepahaman dan kesepakatan tentang konsep jihad yang sebenarnya dari olahan data kajian Fiqh antara dua narasumber, Ustad Muhammad Jaidun, Amir JAT Bima dan Ustad H Muhammad Adnin.

Peserta yang diundang sebanyak 35 orang, perwakilan dari Kemenag Kota Bima, MUI, Ormas Islam Muhammadiyah, Nahdlatul Ulama (NU), Nahdlatul Wathan (NW), Persatuan Islam (Persis), Brigade Masjid dan anggota JAT.

Ketua FKUB Kota Bima, Eka Iskandar Z mengatakan, tujuan kegiatan adalah untuk mensosialisasikan keberadaan JAT kepada masyarakat Kota Bima bahwa mereka bukan musuh masyarakat dan bukan pula teroris. Tetapi mereka merupakan saudara seaqidah, seiman dan seagama.

“Selain itu, bertujuan untuk membantu sudara-saudara kita mewujudkan kesejahteraan hidup sebagai bagian hajat untuk memperoleh hak yang layak, perimbangan dalam sisi kehidupan sosial, ekonomi dan budaya,” terangnya.

Dalam pemaparannya, Ustad H Adnin menjelaskan, tanpa jihad hidup manusia menjadi hina dan dunia tidak akan pernah tercapai. Tanpa jihad pula rahmat Allah jauh dari kehidupan kita.

Hal ini disimbolkan dalam tiga apek. Pertama, keseriusan hati dan fisik menolak hal-hal yang menghancurkan fisik manusia. Kedua, keseriusan untuk menghadapi musuh agama Allah. Dan ketiga, keseriusan untuk mendapatkan hajat hidup manusia.

Ustad H Adnin mengutip pendapat Imam Ibnu Taimiyah bahwa jihad diartikan dalam tiga hal. Yakni untuk mendapatkan rahmat Allah, untuk menegakkan Agama Allah dan jalan kita mencapai syurga Allah serta menjadikan kita manusia yang beruntung di akhirat kelak.

Ruang lingkup jihad yang dikaji Ustad H Adnin adalah menolak kemungkaran dan angkara hawa nafsu manusia. Karena jihad melawan hawa nafsu merupakan jihad paling tinggi mengalahkan posisi berperang menumpahkan darah.

Hal ini didasarkan pada hadist Nabi setelah para sahabat pulang dari Perang Badar. Rasulullah mengatakan kepada sahabat bahwa mereka baru pulang dari perang yang kecil dan menuju perang yang lebih besar, yakni perang melawan hawa nafsu.

Kemudian dalam pemaparan Amir JAT Bima, Ustad Muhammad Jaidun, Ia mengutip sebuah ayat Al Qur’an “Wajaahidu bi anfusihim wa amfusikum fii sabiilillah”. Dalam ayat ini menurut pemahamannya, mutlak diartikan perang. Tetapi perang dalam makna untuk mendakwahi orang-orang kafir yang siap memerangi dan menolak dakwah Islam.

Kedua bermakna perang melawan hawa nafsu. Dan ketiga perang memerangi orang-orang kafir yang tidak memiliki perjanjian damai. Yakni orang-orang kafir antar negara. Namun, mereka itu sesungguhnya tidak boleh diperangi dan merupakan dosa besar. Tujuannya hanya satu, untuk meninggikan Agama Allah.

Sementara Panelis, Sudirman H Makka mengatakan, selama ini banyak yang salah memaknai dan memposisikan istilah jihad. Orang-orang yang telah dilabel sebagai kelompok teroris adalah mereka yang tidak sejalan dengan pemahaman yang dicetuskan negara.

“Karena itu harus kita luruskan, mereka itu adalah ikhwan kita. Mereka yang cenderung dilabelkan memiliki pemahaman keras semua adalah saudara kita bukan musuh, bukan pula teroris,” terangnya.

Dari kegiatan ini, Sudirman menyimpulkan tiga poin. Pertama, kita adalah muslim bersaudara dan tidak ada satupun yang bisa memusuhi antara sesama muslim. Termasuk JAT adalah saudara kita, bukan musuh dan bukan kaum teroris seperti yang dilabelkan selama ini. Itulah fakta yang ada di Bima.

Kedua, sesungguhnya kegiatan tersebut dihajatkan untuk melihat perimbangan cara pemikiran satu ormas ke ormas lain mengenai kajian jihad. Ternyata ada satu titik simpulnya bahwa tidak ada perbedaan antara ormas satu dengan ormas lainnya, melainkan satu.

Ketiga, jihad yang harus diperangi hanya ada dua. Yakni Jihad Syubhat dan jihad melawan hawa nafsu. Jihad Syubhat dibutuhkan kekuatan untuk memerangi karena itu menjauhkan umat Islam dari aqidahnya. Kemudian jihad melawan hawa nafsu, berarti kita memerangi kemaksiatan hukumnya fardhu kifayah berdiri tegak.

Kemudian, jihad yang dibutuhkan selain itu adalah jihad mewujudkan peradaban umat Islam yang lebih maju. Dalam konteks ini, tanggungjawab pemerintah untuk menyejahterakan masyarakat yang masih di bawah garis kemiskinan. Lalu, jihad melawan kebodohan. Jihad ilmu ini menjadi tanggungjawab ulama.

*Kahaba-03

Komentari Berita Via Facebook
Komentar adalah tanggapan pribadi, bukan mewakili kebijakan redaksi kahaba.net. Kami berhak mengubah atau tidak menayangkan komentar yang mengandung spam atau kata-kata berbau pelecehan, intimidasi, dan SARA.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *