Diduga Kelalaian Pihak Medis PKU Muhammadiyah, Bayi Meninggal Dunia

Kota Bima, Kahaba.- Kelahiran buah hati yang mestinya dinanti dengan senyum kebahagiaan, harus berakhir duka. Anak pertama pasangan Jurianto dan Emi Faturahmi, akhirnya meninggal dunia saat dioperasi. Diduga, kebahagiaan yang tertunda itu karena kelalaian pihak medis PKU Muhammadiyah Bima.

Istri Jurianto saat terbaring lemah pasca operasi. Foto: Eric

Jurianto, kepada sejumlah wartawan Minggu (7/5) menceritakan, isterinya masuk rawat inap di PKU Muhammadiyah sejak Sabtu (6/5) sekitar pukul 17.00 Wita. Pukul 22.00 Wita kemudian mengalami rasa sakit ingin melahirkan. Tapi ketika dirinya menanyakan kapan dokter tiba kepada bidan yang bertugas, semua tidak ada yang menjawab.

“Awalnya bidan tidak ada yang menjawab. Setelah saya terus cerca dengan pertanyaan, salah seorang perawat mengaku dokter lagi istirahat, tidak bisa diganggu,” ungkapnya.

Mendengar jawaban bidan itu, dirinya naik pitam dan kebingungan melihat isteri dan bayi berjuang dengan taruhan nyawa. Namun, bidan bersikap santai bahkan saat berkomunikasi dengan dokter tentang kondisi isteri melalui layanan SMS, tidak melalui telpon.

Ketika dokter tidak kunjung datang, dirinya pun kembali menanyakan bidan kapan dokter datang memeriksa isterinya. Jawaban yang sama juga diterima Jurianto. Dokter sedang istirahat, dan belum bisa diganggu.

Beberapa saat kemudian sambungnya, sekitar pukul 01.00 Wita – 04.00 Wita kondisi isterinya semakin memburuk, perut semakin sakit, badan panas dingin. Bidan pun tidak berbuat banyak, hanya memberikan penanganan dengan obat panas melalui suntikan.

“Karena obat panas suntik itu kondisi bayi dalam kandungan tidak menerima, denyut jantung semakin cepat. Kemudian bidan mengambil langkah dengan memberikan infus biasa. Setelah kondisi bayi stabil, justeru kondisi isteri saya kian memburuk,” katanya.

Melihat kondisi isteri bertambah buruk, Jurianto kembali menanyakan kepada bidan apa langkah yang akan diambil. Justeru dijawab dengan santai, kondisi itu biasa dialami orang yang mau melahirkan.

“Sejak Sabtu pukul 17.00 Wita hingga Minggu 06.00 Wita, tidak ada satupun dokter yang datang memeriksa isteri saya. Baru di pukul 07.00 Wita dokter datang dan melakukan operasi, tapi bayi saya sudah tidak bisa diselamatkan,” ceritanya penuh haru.

Dengan adanya kelalaian penanganan pasien hingga menyebabkan bayi meninggal, dirinya bersama keluarga akan melaporkan kepada pihak kepolisian, LPA, Dinas Kesehatan hingga Ombudsman. Agar bisa disikapi dengan cepat, ditindak sesuai aturan yang berlaku.

“Saya melakukan ini agar memperoleh keadilan, dan berharap kejadian ini tidak terjadi pada pasien lain. Cukup anak saya yang meninggal disini, jangan yang lain karena kelalaian petugas medis,” tegasnya.

Di tempat terpisah, pihak PKU Muhamadiyah yang berwenang untuk memberikan keterangan, tidak berada di tempat. Tiga orang pegawai di ruangan IGD menyarankan untuk menghubungi direktur dan wakil direktur PKU Muhammadiyah.

Kemudian direktur PKU Muhammadiyah dr. H. Ali yang dihubungi via seluler mengaku belum bisa memberikan jawaban karena sedang menangani pasien. Melalui SMS, dia menyarankan untuk menghubungi wakil Direktur Imran untuk memberikan keterangan.

Sementara itu wakil direktur PKU Muhammadiyah Imran yang coba dihubungi nomor handphone nya tidak aktif. Beberapa pegawai setempat juga beberapa kali menghubungi Imran, namun HP nya tidak aktif.

*Kahaba-04  

Komentari Berita Via Facebook
Komentar adalah tanggapan pribadi, bukan mewakili kebijakan redaksi kahaba.net. Kami berhak mengubah atau tidak menayangkan komentar yang mengandung spam atau kata-kata berbau pelecehan, intimidasi, dan SARA.
  1. Nurul hidayah

    Kenapa kalau memang g ada dokternya mesti d pertahankan pasiennya d sana, coba d rujuk k rs lain….
    Kembalikan lagi k takdir…..
    Biar g terlalu kontropersi….
    Astagfirullah…..

  2. Che guevara

    usut tuntas…
    dugaan mal praktek…

    laporkan ke hukum…ombudsman…LPA
    agar d tindak lanjuti….

    semoga keadilan ditegakkan bg masy lemah….

  3. Echa

    Nggak ada istilah “dokter sedang istirahat, tidak bisa diganggu” apalagi keadaan darurat,,
    Sayangnya di berita ini tidak disebutkan siapa dokternya, dokter di Bima ini setau saya yg spesialis kandungan cuma 3, sebutkan namanya, klarifikasi juga ke dokternya, apa benar sudah dihubungi oleh perawat saat keadaan darurat terjadi,?

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *