Natsir: Turnamen Voli Antar Waria Kegiatan Positif

Kabupaten Bima, Kahaba.- Pelaksanaan turnamen bola voli antar waria tak sedikit yang mencela dan tidak mendukung karena dianggap melegalkan keberadaan LGBT (Lesbian, Gay, Biseksual, Transgender). Namun, ada juga yang melihat sisi positif dari kegiatan kontroversi di Desa Cenggu ini. (Baca. Dibuka Bupati, Turnamen Voli Antar Waria Menuai Kontroversi

Ketua Komisi IV DPRD Kabupaten Bima M. Natsir. Foto: Bin

Seperti pendapat yang dikemukakan Anggota DPRD Kabupaten Bima, M Natsir. Bagi Ketua Komisi IV ini, turnamen bola voli antar waria tersebut merupakan kegiatan positif dan outputnya juga positif. Karena menjadi penyaluran hobi, ada nilai-nilai silaturrahmi dan tidak ada unsur kejahatannya. (Baca. MUI Sayangkan Turnamen Voli Antar Waria Didukung Pemda)

“Bagi saya, kalau kontes kecantikan waria No. Kemudian turnamen olahraga voli waria, kegiatan ini kan positif dan negatifnya dimana. Out putnya juga positif,” kata dia kepada media ini, Selasa (16/5) pagi via telepon seluler.

Selain itu menurut Politisi PAN ini, bukan tidak mungkin, ada perputaran ekonomi selama pelaksanaan kegiatan tersebut. Sehingga ada peningkatan pendapatan bagi masyarakat yang menggunakan momen itu untuk berjualan. (Baca. Ternyata, Turnamen Voli Antar Waria Belum Ada Izin)

Natsir mengaku, telah membaca pendapat MUI Kabupaten Bima. Memang Ia tidak membantah, LGBT sebuah status yang tidak baik. Tapi harus disadari dan pikirkan juga bahwa orang tidak mau menjadi LGBT.

“Menjadi waria atau LGBT tidak ada yang menghendaki itu, secara biologis mungkin ada sesuatu yang tidak bisa mereka lawan, seperti pengaruh hormon,” kata dia.

Soal kekuatiran MUI kegiatan itu dapat melegalkan keberadaan kelompok waria, menurut Natsir hal itu hanya kekuatiran semua. Ia juga tidak mengingkari, dalam Agama Islam telah diceritakan di Zaman Nabi Luth kaum seperti mereka dilaknat dan dalil-dalilnya jelas.

Sekarang ini lanjutnya, kalau memang pemerintah menganggap kegiatan itu salah bisa menarik dukungannya. Begitu juga Kepolisian, kalau memang berdasarkan kajian kegiatan itu menimbulkan resistensi yang begitu luas di masyarakat bisa dihentikan. Namun, dengan membangun komunikasi yang baik dengan panitia dan peserta.

“Artinya kita tetap kesana. Kita berikan kewenangan ke pemerintah daerah dan aparat penegak hukum untuk mengevaluasi sejauh mana efek negatif atau manfaat dan mudaratnya. Jangan pada persoalan warianya,” terangnya.

Sebab kata Natsir, undang-undang negara ini mengatur bahwa setiap warga negara punya hak yang sama untuk hidup. Sehingga jangan sampai juga mendiskriminasi mereka.

“Saya pikir semua pihak harus melihat sisi positinya. Kelompok waria begini-begitu saya tidak masuk pada ranah itu. Intinya kegiatan dan outputnya positif. Tidak perlu dipolemikkan terlalu jauh,” sarannya.

Natsir menambahkan, agar kegiatan tersebut semakin positif, Ia mengajak Dikes, Bupati Bima, BNNK, Kepolisian, maupun MUI untuk memberikan pembinaan dan pencerahan kepada mereka. Misalnya tentang bahaya narkoba, HIV/AIDS dan sebagainya.

“Bisa mengambil waktu mereka sehari atau sebelum kegiatan mereka. Saya pikir itu bisa dilakukan,” ujarnya.

*Kahaba-03 

Komentari Berita Via Facebook
Komentar adalah tanggapan pribadi, bukan mewakili kebijakan redaksi kahaba.net. Kami berhak mengubah atau tidak menayangkan komentar yang mengandung spam atau kata-kata berbau pelecehan, intimidasi, dan SARA.
  1. Che guevara

    kalo dr segi olahraga iy bapak dewan…

    tp dr segi agama SANGAT DILARANG…BAHKAN PERINTAH AL QURAN….

    Bapak Dewan…tolong baca lagi kisah kaum sodom baru komentar….

  2. Y.M.Khaldun

    Tanpa mengurangi rasa hormat saya terhadap Sdr Natsir bahwa pernyataan seperti itu biasanya keluar dari mulut kaum Liberal (JIL). Dalam Agama (Islam) LGBT sudah sangat jelas terlaknat. Jadi apapun aktifitas mereka yang mengarah kepada pengakuan terhadap eksistensi mereka harus ditiadakan karena akan berdampak pada perasaan mereka bahwa, mereka telah diakui. LGBT adalah sebuah penyakit baik secara mental maupun secara keagamaan karena adanya kecenderungan kesukaan
    terhadap sesama jenis. Oleh karena itu sebisa mungkin penyakit ini diretas dari masyarakat (bukan oranya, ya)terutama dengan menanamkan nilainilai keagamaan kepada mereka. Kita sadarkan mereka bahwa kondisi yang mereka hadapi itu adalah salah walaupun kita tidak pungkiri juga bahwa itu bukanlah semata-mata keinginan mereka, tapi tidak bisa kita menafikan juga bahwa banyak dari mereka yang telah sadar dan mampu menepis gejolak yang muncul daqri dalam diri mereka dan kembali menjalani hidupnya secara normal. Memang harus diakui bahwa Turnamen itu memberi dampak yang lumayan bagi masyarakat, seperti dampak ekonomi, hiburan, silaturrahim dll. Tapi haruskah demi dampak positif yang secuil lalu kita korbankan agama, masyarakat bangsa dan negara yang karena itu ALLAH akan menurunkan laknat-NYA ? Ini bukanlah ungkapan kebencian kepada mereka, bukan diskriminasi, bukan juga dalam rangka mengamputasi hak azasi mereka, Tapi ini adalah kekhawatiran kita, kekhawatiran akan semakin merebaknya keberadaan mereka dimasyarakat, kekhawatiran akan semakin maraknya acara-acara mereka, dan yang lebih penting lagi adalah kekhawatiran kita akan datangnya azab Allah Azza wajalla. Bukan tidak mungkin pada suatu saat nanti dengan dalih hak azasi manusia mereka meminta pengakuan dan dilegalkannya Perkawinan sesama jenis antara mereka, seperti yang terjadi di Amerika, Eropah bahkan di Indonesia sendiri. Mari sejenak kita bayangkan bila semua itu terjadi. jangan bayangkan lucunya suasana perkawin mereka TAPI BAYANGKAN LAKNAT YANG BAKAL ALLAH TURUNKAN BUAT KITA, BUAT DAERAH DAN BANGSA KITA Karena bila ALLAH menurunkan laknatnya, maka tidak hanya mengenai pelaku maksiat saja tetapi orang2 baik dan shalehpun akan terkena imbasnya. Cukuplah ummat nabi luth (kaum soddom) yang mengalami azab yang mengerikan, jangan lagi kita dan anak cucu kita. Mari kita sayangi mereka seperti saudara kita sendiri, mari rangkul mereka agar kembali normal bergaul dengan mayrakat lain, mari kita bimbing mereka agar kembali pada jati diri mereka tanpa harus menyediakan momen bagi mereka untuk secara berkelompok mengumbar-umbar diri mereka. Wallahu a’lam.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *