Dorong Bima Damai, Rumah Cita Urai Potensi Konflik

Kota Bima, Kahaba.- Upaya mewujudkan terciptanya kondusifitas daerah dan mendorong Bima damai terus dilakukan sejumlah pihak. Salah satunya melalui Focus Group Discussion (FGD) yang digelar lembaga permerhati konflik, Rumah Cita, Senin (22/5) pagi di Depot Kintani Kota Bima.

FGD Rumah Cita bahas penanganan konflik pemuda dan mahasiswa di Bima. Foto: Ady

FGD ini mengusung tema ‘Damai Bima Untuk Indonesia ; Mengurai Potensi Konflik Pemuda dan Mahasiswa di Bima’. Peserta diskusi melibatkan perwakilan Badan Eksekutif Mahasiswa (BEM), OKP dan Jurnalis.

Ada tiga pemantik atau pengarah diskusi yang dihadirkan, yakni M Tahir Irhas (Akademisi dan Pendiri Lembaga PUSKAB NTB), Arifudin (Pemerhati Konflik Pemuda dan Mahasiswa) dan Sofian Asy’ari (Jurnalis Damai). Sementara pemandu diskusi, Muhammad Yunus (Direktur Rumah Cita).

Dalam pemaparannya Arifudin mengatakan, karakter mahasiswa dan pemuda di Bima saat ini mulai mengalami pergeseran. Sangat mudah terseret masuk dalam konflik yang terjadi hanya karena semangat kesetiakawanan yang keliru.

Para pemuda di Bima juga belum mampu menjadi agen di masyarakat untuk menawarkan solusi terhadap setiap persoalan. “Justru kerap kali pemuda tampil di depan menggerakkan massa dalam konflik yang terjadi. Ini semangat yang keliru,” tuturnya.

Sementara mahasiswa lanjutnya, tidak lagi menggaungkan budaya akademik sebagai citra seorang mahasiswa. Betapa miris, ketika di kampus mahasiswa bukan datang membawa buku dan pulpen untuk belajar. Namun malah membawa senjata tajam seolah kampus tidak aman lagi dari konflik.

“Ironisnya, kadang konflik mahasiswa di kampus justru dibawa ke kampung dan sebaliknya konflik di kampung dibawa ke kampus,” ujarnya.

Kemudian Jurnalis Damai, Sofian Asy’ari memaparkan bagaimana peran jurnalis dan media massa di Bima sangatlah penting dalam konflik. Media tak saja mengejar rating dan pelanggan dengan suguhan berita sensasional soal konflik, tetapi harus mengedepankan sisi humanis untuk meredam konflik yang terjadi.

Pengalamannya sebagai Jurnalis belasan tahun, selama meliput dan memberitakan konflik betapa informasi dari media massa yang ditulis jurnalis sangat cepat dikonsumsi masyarakat, terutama pihak yang terlibat dalam konflik. Bila dalam posisi ini, jurnalis tak cermat menggali informasi maka bisa jadi berita media massa menjadi faktor penyulut baru untuk memperbesar konflik.

“Disinilah peran Jurnalis dalam menyajikan informasi menyejukkan bagi masyarakat terkait konflik yang terjadi, bukan malah menjadi pemicu baru,” ujar Sofian yang juga Pengurus AJI Bima ini.

Setelah pemaparan para pemantik, FGD kemudian dilanjutkan dengan diskusi kelompok untuk mengurai dan memetakan konflik. Sekaligus tawaran solusi yang akan dijadikan rekomendasi untuk diserahkan kepada pemerintah daerah sebagai konstribusi para mahasiswa dan pemuda.

*Kahaba-03

 

 

Komentari Berita Via Facebook
Komentar adalah tanggapan pribadi, bukan mewakili kebijakan redaksi kahaba.net. Kami berhak mengubah atau tidak menayangkan komentar yang mengandung spam atau kata-kata berbau pelecehan, intimidasi, dan SARA.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *