Bentengi Pelajar dari Radikalisme, FKUB Gelar Seminar

Kota Bima, Kahaba.- Forum Kerukunan Umat Beragama (FKUB) Kota Bima menggelar seminar keagamaan melibatkan para pelajar SMA di Kota Bima. Kegiatan ini dihelat di aula kantor setempat, Selasa (23/5) pagi.

Pelajar saat mengikuti seminar radikalisme. Foto: Ady

Tema seminar yang diangkat ‘Implementasi Islam Rahmatan Lil Alamin di Kalangan Generasi Muda Untuk Membendung Radikalisme yang Menjurus Kepada Terorisme’.

Menghadirkan dua narasumber yakni HM Adnin (Pengurus MUI dan Tokoh Agama Kota Bima), Muhaimin (Ketua Pemuda Muhammadiyah Kota Bima) dan dipandu Sudirman H Makka (Penulis Buku FKUB).

Dalam pemaparannya, Ustad HM Adnin menjelaskan, agama yang dikirim dan diberikan Allah kepada Rasulullah tidak ada yang kurang. Semua sudah sempurna, seperti kesempurnaan penciptaan alam semesta.

“Maka tidak boleh ada Islam Moderat, Islam Nusantara, apalagi Islam Liberal. Islam ya Islam, nilainya diambil dari sumber Al Quran dan Hadist,” papar HM Adnin.

Agama yang dibawa Rasulullah adalah agama yang mulia, rahmat bagi seluruh alam dengan kitab yang mulia. Ideologi Islam tidak pernah menyinggung ideologi lain. Agama merupakan keyakinan pribadi, tidak boleh ada paksaan.

HM Adnin juga menjabarkan ada 4 hal yang menjadi karakteristik pada Islam Rahmatan Lil Alamin. Yakni Bersifat menyeluruh, mendidik kita berakhlak mulia dan menghargai lingkungan,

Kemudian bersifat luas, rahmat mencakup segala sesuatu. Maka tidak ada dalam sejarah Rasulullah membunuh dan menganiaya sesama manusia tanpa alasan. Bersifat praktis dan sesuai dengan fitrah manusia.

Sementara itu, Ketua Pemuda Muhammadiyah, Muhaimin memaparkan, Indonesia adalah bangsa yang multikultur. Hidup berbagai macam ras, etnis, agama dan budaya. Terdiri dari ribuan pulau dan ratusan bahasa di nusantara. Ini menjadi indikator yang menguatkan bahwa Indonesia merupakan bangsa yang multikultur.

“Kita sebagai generasi muda harus merasa bangga dengan perbedaan dan keragaman. Ini adalah rahmat. Tidak semua bangsa memiliki keragaman seperti Indonesia,” urainya.

Sekiranya Allah kata dia, menghendaki kita menjadi bangsa yang satu dan seragam, maka mudah saja bagi Allah. Karena Allah hendak menguji kita, untuk berlomba-lomba berbuat kebajikan sehingga diciptakan berbeda.

Menjadi tugas dan tanggungjawab kita semua lanjutnya, untuk merawat perbedaan ini. Tidak hanya tanggungjawab ustad, guru maupun pemerintah, tetapi kita semua.

“Betul perbedaan bisa menjadi kelemahan. Tapi kalau kita kelola dengan baik maka akan menjadi kekuatan bangsa,” jelasnya.

*Kahaba-03

Komentari Berita Via Facebook
Komentar adalah tanggapan pribadi, bukan mewakili kebijakan redaksi kahaba.net. Kami berhak mengubah atau tidak menayangkan komentar yang mengandung spam atau kata-kata berbau pelecehan, intimidasi, dan SARA.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *