Irfan: Ajarkan Anak Miliki Jiwa Apresiasi

Kota Bima, Kahaba.- Kepala LPMP Provinsi NTB H. Muh Irfan meminta kepada guru dan orang tua untuk mendidik anak agar bisa mengapresiasi, nilai baik dan hasil kerja atau kelebihan orang lain. Sikap tersebut pun akan didorong dalam bentuk reformasi proses belajar mengajar.

Kepala LPMP NTB H. Muh Irfan (Kiri) saat mengikuti rapat bersama Mendikbud. Foto: Dok. LPMP

Irfan kepada media ini mengaku, pada saat memimpin rapat terbatas yang diikuti Dirjen, Direktur dan Kepala LPMP, Mendikbud Muhadjir Effendi menegaskan salah satu yang dilakukan Kemendikbud yakni mereformasi proses belajar mengajar pada satuan pendidikan yang dilakukan oleh guru selama ini, yakni bagaimana guru bisa mengajarkan pada anak-anak untuk memiliki jiwa apresiasi terhadap apa yang baik dan hasil kerja dari pemimpinnya yang saat ini sudah hilang dari masyarakat.

“Sikap mengapresiasi keberhasilan, bukan menonjolkan suatu kelemahan dari apa yang sudah dilakukan oleh pemimpin,” tegasnya.

Menurut Irfan, PP No 19 tahun 2017 dan Permendikbud No 23 tahun 2017 penerapan 5 hari sekolah yang akan dilakukan pada awal tahun ajaran baru Juli nanti adalah pintu masuk untuk reformasi proses belajar mengajar dan fungsi guru pada satuan pendidikan.

Salah satu fungsi guru menanamkan jiwa appresiasi terhadap nilai-nilai baik dan keberhasilan yang dilakukan orang lain serta berfungsi sebagai katalisator bagi dunia pendidikan dan masyarakat, disamping berfungsi sebagai transformasi pengetahuan.

“Kepala sekolah menjadi fungsi manajer dari satuan pendidikan bukan lagi sebagai tugas tambahan, dibutuhkan satu dua tahun untuk mereformasi fungsi-fungsi tersebut,” katanya.

Irfan menjelaskan, fungsi dan beban kerja guru adalah inti dari kebijakan Kemendikbud dan PP 19 tahun 2017, menyiapkan anak didik sebagai generasi Indonesia yang berkarakter lewat menguasai kompetensi abad 21.

Lama mengajar sangat menentukan keunggulan seseorang. Lama jam belajar dibawah tanggungjawab sekolah secara sadar dan terencana untuk menyiapkan suasana belajar mengembangkan diri anak secara optimal.

“Sekolah kita bangun sesuai karakter lingkungan anak dan daerah masing-masing 70 persen karakter 30 persen pengetahuan. Secara bertahap akan dikakukan, menunggu semuanya siap tidak mungkin tapi kita harus memulai dan melakukan,” tambahnya.

*Kahaba-01

Komentari Berita Via Facebook
Komentar adalah tanggapan pribadi, bukan mewakili kebijakan redaksi kahaba.net. Kami berhak mengubah atau tidak menayangkan komentar yang mengandung spam atau kata-kata berbau pelecehan, intimidasi, dan SARA.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *