Kadispar Diduga Salahgunakan Dana Gerobak Angkut Speed Boat dan Dana Apeksi

Kota Bima, Kahaba.- 2 orang pegawai Dinas Pariwisata Kota Bima masing-masing GF dan MD mengunggkap dugaan penyalahgunaan anggaran kegiatan di dinas tersebut. Seperti anggaran pembuatan gerobak angkut speed boat dan dana kegiatan Apeksi di Mataram beberapa waktu lalu.

Gerobak angkut Spead Boat di Dinas Pariwisata Kota Bima. Foto: Eric

Kedua orang yang merupakan pejabat di dinas itu menjelaskan, dana pembuatan gerobak itu menghabiskan anggaran sebanyak Rp 12 juta tahun 2015 dan Rp 24 juta pada tahun 2016. Kemudian pembuatannya dikerjakan oleh tetangga kepala dinas, yang mempunyai bengkel.

“Bila dilihat dari speck barang tersebut, di duga disalahgunakan karena nilainya mahal tapi kondisi fisik biasa saja,” ujar sumber.

Demikian juga untuk dana kegiatan Apeksi di Kota Mataram. Itu diketahui dari duta wisata Kota Bima tidak di ajak. Tapi justeru puteri Kadis di bawa dalam kegiatan tersebut. Padahal duta wisata Kota Bima yang mestinya diajak, untuk ajang promosi daerah.

“Bagaimana pariwisata Kota Bima dikenal luas, yang tidak mengerti wisata diajak. Sedangkan duta wisata yang dipilih, justeru tidak di ajak. Inikan lucu,” sorotnya.

Kepala Dinas Pariwisata Kota Bima H. Sukri yang coba dimintai klarifikasi, tidak ada di kantornya. Dihubungi via telefon dan pesan singkat, hingga berita ini dinaikkan belum ada jawaban.

Sementara itu Kabid Promosi Pariwisata Dinas Pariwisata Kota Bima Yulianti yang dimintai tanggapan mengaku tidak tahu soal anggaran gerobak angkut speed boat. Tapi terkait informasi puteri kepala dinas ikut Apeksi, dan menggunakan SPPD, itu tidak benar.

“Benar puteri kepala dinas ikut Apeksi, isterinya juga ikut. Tapi tidak menggunakan anggaran Dinas, justeru kepala dinas pakai uang sendiri,” tandasnya.

*Kahaba-04

Komentari Berita Via Facebook
Komentar adalah tanggapan pribadi, bukan mewakili kebijakan redaksi kahaba.net. Kami berhak mengubah atau tidak menayangkan komentar yang mengandung spam atau kata-kata berbau pelecehan, intimidasi, dan SARA.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *