Giat Silahturahim, H. Sutarman Tegaskan Ikut dan Segarkan Visi Misi

Kota Bima, Kahaba.- Memanfaatkan hari terakhir bulan ramadan 1438 H, bakal calon Walikota Bima H. Sutarman H. Masrun kembali turun dan silahturahim dengan warga di 10 wilayah di Kota Bima. Kunjungan selain memperkuat basis yang pernah didatangi sebelumnya, juga menegaskan kembali jika dirinya tetap ikut menjadi bakal calon Walikota Bima.

H. Sutarman saat silahturahim di Kolo. Foto: Bin

Pertemuan tersebut dikemas dalam bentuk yang sederhana dan santai. Namun tidak meninggalkan diskusi tentang politik dan keikutsertaannya pada Pilkada Kota Bima tahun 2018.

Adapun wilayah yang disambangi, seperti Tolobali, Tolotongga, Karara, Santi, Rabangodu Selatan, Penaraga, Toloweri, Nungga, Dodu 1 dan Dodu 2, Rontu, dan Kelurahan Kolo.

Dari pertemuan itu, H. Sutarman menegaskan kembali soal dirinya yang ikut menjadi kontestan Pilkada. Sebab, beberapa bulan terakhir rumor dan opini publik beredar dirinya tidak ikut karena tidak memiliki kendaraan politik.

Namun dirinya menjelaskan, hingga saat ini belum ada satu bakal calon pun yang berani mengelaim soal partai. Sebab, partai juga belum ada yang menentukan sikap terhadap calon mana yang akan diusung.

“Semua mengelaim, boleh saja, tapi jangan percaya. Parpol juga belum ada yang memiliki sikap. Semua masih dalam tahapan upaya,” tegasnya.

Momen pertemuan di sejumlah wilayah juga dimanfaatkan Pembina Kosambo untuk kembali menyegarkan soal visi dan misinya untuk mengajak warga Kota Bima hijrah ke era yang lebih baik. Sebab, didepan mata terbentang luas potensi yang harus dikelola dengan baik dan serius. Pada akhirnya, daerah berkembang, mandiri dan sejahtera.

“Potensi yang kita miliki bukan sesuatu yang mercusuar, yang sulit untuk dikelola. Potensi semua ada di depan mata kita. Kenapa kita tidak serius untuk mengurusnya,” jelas Aji Man, sapaan akrabnya.

H. Sutarman saat silahturahim di Dodu. Foto: Bin

Ia memberi salah satu contoh, tiga titik kawasan wisata seperti Lawata, Pulau Kambing dan Kolo, merupakan destinasi wisata yang harus disentuh dengan maksimal. Tentukan tiap titik itu ingin difokuskan untuk kelola dalam bentuk apa.

Seperti, Kolo fokus wisata air, berupa wahana – wahana dan permainan. Pulau Kambing untuk penginapan, restoran, rumah makan atau tempat hiburan, kemudian Lawata dijadikan sebagai gerbang untuk berwisata di dua titik tersebut. Artinya, jika ingin ke dua titik tersebut, pengunjung hanya membeli satu karcis di Lawata. Kemudian bisa menikmati sajian wisata di Kolo dan Pulau Kambing. Kemudian perahu atau boat, harus stand by selama dibutuhkan.

“Nah, masalahnya apakah ini bisa dimulai dan dilakukan?. Saya berani melakukannya, dan saya pun bisa melakukan itu,” tantangnya.

Jika sudah begitu sambungnya, maka destinasi wisata yang melahirkan ekonomi kreatif yang dikelola dan diatur, akan tumbuh dengan baik. Selanjutnya, tinggal mengatur sektor lain yang juga butuh disentuh dengan maksimal.

“Ini salah satu bagian yang saya maksud hijrah. Mari kita rubah pola pikir kita, rubah cara bekerja dan kita rubah cara kita mengatur daerah ini. Saya yakin, semua mungkin dilakukan asalkan kita bersungguh – sungguh,” tambahnya.

*Kahaba-01

Komentari Berita Via Facebook
Komentar adalah tanggapan pribadi, bukan mewakili kebijakan redaksi kahaba.net. Kami berhak mengubah atau tidak menayangkan komentar yang mengandung spam atau kata-kata berbau pelecehan, intimidasi, dan SARA.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *