Umi Yani Dianggap Figur Potensial Mewakili Perempuan

Kota Bima, Kahaba.- Munculnya nama Hj Yani Marlina atau Umi Yani, yang juga istri Walikota Bima dalam daftar figur yang digadang mengenderai PDI Perjuangan pada Pilkada Kota Bima 2018 mendapat tanggapan beragam dari banyak pihak.

Hj. Yani Marlina HM. Qurais H. Abidin. Foto: media garda asakota

Salah satu Akademisi Bima, Asrul Raman berpendapat, munculnya nama Umi Yani di daftar figur yang dibidik partai berlambang banteng moncong putih merupakan hal yang wajar. Baginya, siapapun bisa diusung oleh partai politik, apalagi wajah partai politik kita sekarang kalau tidak ada kader sendiri, pasti melirik orang lain yang dianggap potensial.

Saat ditanya apakah berarti Umi Yani dianggap figur potensial? Tentu berpotensial kata dia, mengingat beliau istri Walikota Bima danKetua PKK yang memiliki jaringan struktur kerja sampai ke tingkat terendah.

Meskipun bagi sebagian orang munculnya nama Umi Yani lanjut dia, memang akan dianggap membangun dinasti politik. Namun semua itu tergantung sudut pandang publik dan masing-masing orang.

Harus diketahui terang Asrul, PDI-P menaruh perhatian besar terhadap politik perempuan. Hal ini dibuktikan bahwa PDI-P satu-satu nya partai yang menjadikan perempuan sebagai Presiden RI. Dalam kurun waktu menjabat Presiden pun, Megawati Seokarno Putrimelahirkan Undang-Undang Nomor 23 Tahun 2002 tentang Perlindungan Anak dan Perempuan.

“Dalam berbagai pidatonya, Ketua Umum PDI-P ini menegaskan perempuan harus bangkit termasuk menjadi pemimpin dalam politik.Pidato nya baru-baru ini di Malaysia pun begitu,” papar pria yang juga pegiat sosial ini, Selasa (4/7).

Lebih jauh Asrul berpandangan, laki-lali dan perempuan semuanya punya peluang dalam pentas politik. Namun, perempuan lebih unggul dalam branding isu untuk saat ini, karena perempuan mewakili wajah kemiskinan.

“Tapi jika ada laki-laki yang berprespektif gender, saya rasa akan seimbang menggunakan isu perempuannya,” nilainya.

Selain isu perempuan sambungnya, ada juga isu yang bisa menjadi pemicu keterpilihan untuk pasangan ke depan. Isu itu ditarik dari problem sosial yang ada sekarang ini. Dalam strategi politik ada banyak hal yang harus dilakukan dan yang utama dalam rentang waktu dua bulan ini para calon kandidat harus menaikkan personal branding.

“Baru setelah itu perlu melakukan perencanaan konseptual dengan langkah – langkah strategis yang terbagi dalam fase-fase. Intinya, tahapan strategi politik itu banyak,” urainya.

Semua calon kandidat saat ini lanjutnya, sudah membentuk kelompok masing-masing. Maka yang perlu diingat kelompok target setiap calon itu berbeda-beda, bisa jadi salah satu calon memiliki citra negatif pada kelompok calon lain, begitupun sebaliknya. Para calon memiliki target citra masing-masing dan tentu segmen targetnya pun berbeda.

Diakhir wawancara dengan Kahaba, Asrul menilai media memiliki pengaruh sangat kuat terhadap pemilih ke depan. Apalagi ini jaman digital dan media sosial, penggunaan wadah-wadah itu sangat penting.

“Kemenangan Trump di Amerika, kekalahan Angela Merkel di Berlin-Jerman dan kemenangan Anis di DKI, itu bukti isu di media online dan media sosial sangat berpengaruh. Saya rasa, bukan jamannya lagi kampanye dengan pola-pola lama,” tutupnya.

*Kahaba-03

Komentari Berita Via Facebook
Komentar adalah tanggapan pribadi, bukan mewakili kebijakan redaksi kahaba.net. Kami berhak mengubah atau tidak menayangkan komentar yang mengandung spam atau kata-kata berbau pelecehan, intimidasi, dan SARA.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *