Kenapa Hari Jadi Bima Ditetapkan 5 Juli? Baca Nih Sejarahnya

Kabupaten Bima, Kahaba.- Bupati Bima, Hj Indah Dhamayanti Putri saat memimpin upacara Hari Jadi Bima ke-377 tahun di Kecamatan Woha turut mengulas sejarah singkat kenapa Tanggal 5 Juli ditetapkan sebagai Hari Jadi Bima yang kemudian diperingati setiap tahun.

Prosesi upacara HUT Bima ke-377. Foto: Ady

Bupati memaparkan, tanggal itu diambil dari sejarah berdirinya Kesultanan Bima pada Tanggal 5 Juli 1640 atau bertepatan dengan 15 Rabiul Awal 1050 Hijriah. Peristiwa sejarah dan sakral itu ditandai dengan penobatan Putera Mahkota La Ka’i atau yang dikenal dengan Sultan Abdul Kahir I menjadi Sultan Bima pertama.

Dari sejarah itu, sehingga pada hari ini Tanggal 5 Juli 2017 jarum sejarah kembali berputar. Kita berkumpul dalam rangka memperingati momentum yang bersejarah itu. Perayaan Hari Jadi Bima tentu tidak hanya mengenang perjalanan Abdul Kahir, tetapi menjadi tonggak sejarah bagi seluruh manusia mbojo untuk merefleksikan kembali perjuangan dan dedikasi para pendahulu kita dalam menegakkan syiar Islam dan melawan penjajah menuju Indonesia merdeka.

Dijelaskannya, Kesultanan Bima yang dibangun dari tiga pilar lembaga, yaitu Sara Tua sebagai Legislatif, Sara-Sara sebagai eksekutif dan Sara Hukum sebagai Yudikatif telah memainkan peranan penting dalam perjalanan sejarah nusantara. Dimana Islam telah menjadi landasan fundalmental yang mempengaruhi sendi kehidupan politik, ekonomi, sosial dan budaya masyarakat.

Kesultanan Bima juga telah mampu memadukan hukum adat dan hukum Islam secara seimbang yang dilambangkan dalam Burung Garuda berkepala dua sebagai simbol keterpaduan hukum adat dan hukum Islam. Dengan landasan filosofi Maja Labo Dahu yang diaktualisasikan melalui pesan-pesan indah Su’u Saw’u Sia Sawale (Menjunjung Tinggi Amanah), Nggahi Rawi Pahu (Menyatukan Kata dan Perbuatan), serta delapan prinsip kepemimpinan yang dikenal dengan Nggusu Waru.

Para pendahulu kita kata Bupati Bima, telah banyak menorehkan sejarah emas dimana islam yang rahmatan lil alamin telah bersinar terang mengawal peradaban dan melahirkan sosok-sosok para ulama, cerdik pandai dan tokoh-tokoh pejuang yang gagah berani di bawah bimbingan para imam dan khatib yang dikenal dengan Khatib Tua, Khatib Karoto, Khatib Lawili dan Khatib O’i.

Bupati Bima, Hj Indah Dhamayanti Putri saat menjadi Inspektur upacara HUT Bima ke-377. Foto: Ady

Hal itulah yang menyebabkan Bima dikenal sebagai serambi Makkah Kedua setelah Aceh Darussaalam. Maka tidaklah mengherankan jika Almarhum Hamka pernah bertutur, “Jika ingin belajar Islam, maka datanglah ke Bima.”

Kesultanan Bima bergabung dengan Negara Kesatuan Republik Indonesia melalui Maklumat Sultan Muhammad Salahuddin pada tanggal 22 November 1945 yang menyatakan bahwa Pemerintah Kerajaan Bima adalah sebuah daerah dari Negara Republik Indonesia dan berdiri dibelakang Pemerintah  Republik Indonesia. Dengan kesadaran penuh atas dasarfilosofi Tompara Nahu Sura Dou Labo Dana (Biarlah untuk saya yang penting untuk Raya Dan Negeri).

Seorang Sultan melepaskan kekuasaannya, merelakan segalanya demi kepentingan yang lebih besar dan visi masa depan yaitu membangun Indonesia yang merdeka, berdaulat, adil dan makmur. Sejarah emas Kesultanan Bima berakhir atas cita-cita dan keinginan mulia para pemimpin dan rakyatnya. Bima kemudian menuju masa transisi dan menjadi daerah swapraja, swatantra, kemudian menjadi daerah Kabupaten dan Kota Bima hingga saat ini.

Pada momentum bersejarah ini, Bupati mengajak para hadirin untuk mengirimkan untaian doa dan penghargaan yang tulus atas kiprah, perjuangan dan dedikasi para raja dan sultan Bima, para Bupati, Pimpinan dan Angotta DPRD,Para Anggota Forum Koordinasi Pimpinan Daerah, para ulama dan cerdik pandai, para guru, para tenaga kesehatan, tokoh pemuda, tokoh wanita dan putera puteri terbaik Bima yang telah meletakan dasar-dasar yang kokoh bagi pembangunan dan kemajuan Dana Mbojo.

“Terima kasih dan penghargaan yang tulus pula kepada para olahragawan yang telah mengharumkan nama Bima di berbagai event olahraga. Demikian pula kepada para seniman dan budayawan yang berkiprah melestarikan dan memajukan seni dan budaya Bima,” terangnya.

*Kahaba-03

Komentari Berita Via Facebook
Komentar adalah tanggapan pribadi, bukan mewakili kebijakan redaksi kahaba.net. Kami berhak mengubah atau tidak menayangkan komentar yang mengandung spam atau kata-kata berbau pelecehan, intimidasi, dan SARA.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *