HUT Telkom Punya Cerita: Growth Through Disruption

Kota Bima, Kahaba.- Jajaran pegawai Kantor Daerah Telkom (Kandatel) Bima merayakan HUT Telkom ke-52, Kamis (6/7). Pada kesempatan itu, karyawanm Telkom Bima juga membacakan sejarah Telkom hingga diharapkan menjadi Top 10 Market Capitalization Telco in Asia – Pasific by 2020.

Kue HUT Telkom saat perayaan HUT ke-52 di kantor Telkom Bima. Foto: Bin

Asman Kandatel Bima, Edi Baharuddin menyampaikan, dalam perjalanan sejarahnya Telkom hampir tak lekang dari disrupsi. Disrupt or to be disrubted. Namun di tengah disrubsi yang silih berganti, Telkom mampu sustainable dan tumbuh.

Secara umumkata dia, ada 6 fase disrubsi yang selama ini dihadapi oleh Telkom sejak dulu yakni kemunculan telepon, perubahan organisasi jawatan, tumbuhnya teknologi seluler, disrupsi digital, ekspansi ke pasar global dan kampiun digital di regional.

Pada Fase pertama, ditandai dengan kemunculan telepon yang menyaingi layanan pos dan telegraf pada 1882. Saat itu, telegraf, sudah berkembang sejak 1856 dan bahkan memiliki saluran kabelnya sepanjang 2.700 km yang mengoneksikan wilayah Hindia – Belanda meliputi Jawa, Sumatera, Sulawesi dan Kalimantan.

Namun, hadirnya telepon pada 1882 membuat masyarakat kian memilih untuk menggunakan teknologi baru ini. Kala itu, banyak perusahaan swasta menyelenggarakan bisnis telepon. Banyaknya pemain ini membuat industri telepon berkembang lebih cepat pada 1892 telepon sudah digunakan secara interlokal dan tahun 1929 terkoneksi secara internasional.

Kemudian pada Fase kedua, menjadi entenitas bisnis setelah banyaknya perusahaan milik Belanda diakuisisi oleh Indonesia sejak tahun 1957. Pemerintah Soekarno memiliki visi untuk menjadikan seluruh perusahaan negara menjadi “Public corporation”.

“Djawatan PTT pun berubah menjadi perusahaan Negara Pos dan Telekomunikasi (PN Postel), sehingga lebih modern dan otonom. Inilah yang kamis ebut sebagai disrupsi fase kedua,” ujarnya.

Pada Fase ketiga, revolusi seluler. Hadirnya teknologi GSM dan mobile phone di tanah air menciptakan ancaman terhadap keberadaan telepon. Bagi Telkom, ini ancaman sekaligus peluang. Telkom pun melakukan self disruption dengan mendirikan Telkomsel pada 1995. Telkomsel pun meluncurkan kartu Halo pasca bayar pada tahun 1995 dan pada 1997 jaringan Telkomsel telah hadir di seluruh Provinsi Indonesia.

Di tengah revolusi seluler ini, Telkom mengalami perubahan keorganisasian. Di bawah kepemimpinan Cacuk Sudarijanto, Telkom berubah dari Perumtel menjadi Persereoan (PT). Dilanjutkan oleh Setyanto P. Santosa yang mengubah dari Persero menjadi Perusahaan Terbuka (Tbk).

Apel HUT Telkom ke-52. Foto: Bin

“Telkom kemudian berubah sebagai perusahaan modern, transparan dan berorentasi profit,” terangnya.

Lalu pada Fasekeempat, Disrupsi Digital Agresivitas pemain Over The Top (OTT) seperti Google, Facebook, Apple, Twitter, Yahoo dll, di industri telekomunikasi, sepanjang tahun 2000-an memaksa Telkom bertransformasi secara revolusioner:customer-centric organization, perubahan portofolio produk dari InfoComm ke TIMES, pembangunan infrastruktur, inovasi business model dan peningkatan kapabilitas SDM.

Pada masa ini, Telkom banyak melakukan inovasi dengan menghadirkan layanan digitak seperti Telkom Vision, Speedy, TelkomNet Instan, Indonesia Wifi, layanan IPTV dan lainnya. Hal ini dilakukan agar Telkom mampu menghadapi disrupsi digitak dan menjadi telekomunikasi terdepan.

Fase kelima, Ekspansi internasional. Fase disrupsi 5 ialah perubahan Telkim dari pemain ICT lokal menjadi global. Tatkala pangsa pasar ICT di tanah air kian ramai diperebutkan oleh kompetitor global, maka Telkom menghadapi dua tantangan mahaberat, diserang atau menyerang? Telkom pun menginisiasi Internasional Expansion (InEx) sebagai strategi ekspansi bisnis secara global.

InEx ini menjadi strategi Telkom untuk mencapai sumber pertumbuhan baru di luar negeri sekaligus membuktikan dirinya menjadi perusahaan ICT kelas dunia. Apa yang dilakukan Telkom adalah menetapkan footprint di 10 negara dan melakukan aliansi bisnis dengan perusahaan global.

Selanjutnya pada Fase keenam, Kampiun digital di Regional. Di masa kepemimpinan Alex J. Sinaga, Telkom memiliki visi menjadi “Be the King of Digital in the Region” di tengah ancaman disrupsi. Telkom memiliki strategi pertumbuhan berdaya saing disruptif. Hal ini terlihat dari portofolio bisnis Telkom yang semakin kuat di bidang digital dan seluruh produknya harus mendisrupsi pasar atau industri.

Telkom pun bertransformasi menjadi perusahaan telekomunikasi berbasis digital. Strategic Initiatives yang dilakukan Telkom ialah DIGITAL NOW. Dengan strategic initiative itu, Telkom diharapkan menjadi “Top 10 Market Capitalization Telco in Asia – Pasific by 2020”.

*Kahaba-01

Komentari Berita Via Facebook
Komentar adalah tanggapan pribadi, bukan mewakili kebijakan redaksi kahaba.net. Kami berhak mengubah atau tidak menayangkan komentar yang mengandung spam atau kata-kata berbau pelecehan, intimidasi, dan SARA.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *