Soal Pencalonan pada Pilkada, Umi Yani Masih Bungkam

Kota Bima, Kahaba.- Setelah PDIP Kota Bima berencana mengusung Hj. Yani Marlina HM. Qurais sebagai bakal calon Walikota Bima pada Pilkada 2018 mendatang. Muncul beragam komentar, beberapa diantaranya mendukung isteri Walikota Bima itu untuk maju.

Hj. Yani Marlina HM. Qurais H. Abidin. Foto: media garda asakota

Sejumlah alasan yang banyak mengemuka seperti, Umi Yani sapaan akrab Hj. Yani Marlina itu dinilai sebagai figur yang potensial mewakili perempuan. Kemudian ketua PKK yang memiliki jaringan struktur hingga tingkat terendah dan memiliki kans besar untuk menang pada Pilkada.

Namun, semenjak munculnya komentar dan dukungan untuk pencalonannya, Umi Yani masih bungkam dan terkesan menghindar berbicara pada media. Beberapa kali diupaya untuk memberikan tanggapannya, istri orang nomor satu di Kota Bima itu masih diam.

Seperti saat dimintai tanggapan sewaktu menghadiri upacara Hari Jadi Bima ke-377 di persiapan Kantor Bupati Bima, Umi Yani tidak ingin berkomentar dan menyarankan wartawan untuk ke rumahnya.

“Jangan disini, ke rumah saja,” katanya.

Kemudian saat media ini berusaha mengonfirmasi kembali di rumahnya, sejumlah anggota Pol PP yang jaga mengaku Umi Yani tidak ada di rumah.

“Umi sedang berada di kantor PKK belakang Convention Hall Paruga Nae,” tuturnya.

Disambangi di kantor PKK, Umi Yani terlihat berada di dalam kantor tersebut. Namun melalui ajudannya dititip kalimat agar wawancaranya besok saja.

Keesokan hari, media ini yang berusaha komunikasi dengan ajudannya sore hari mengaku Umi Yani sedang ada acara. Lalu ditetapkan malam hari untuk bertemu untuk wawancara. Sementara malam hari saat ditanya kembali, ajudannya menjawab Umi Yani sudah istrahat.

“Besok saja wawancaranya di Pemkot Bima ada Gubernur NTB yang datang,” sarannya.

*Kahaba-01

Komentari Berita Via Facebook
Komentar adalah tanggapan pribadi, bukan mewakili kebijakan redaksi kahaba.net. Kami berhak mengubah atau tidak menayangkan komentar yang mengandung spam atau kata-kata berbau pelecehan, intimidasi, dan SARA.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *