DPPPA Berangkatkan Omar Wakili NTB pada Forum Anak Nasional

Kota Bima, Kahaba.- Dinas Perlindungan Perempuan dan Perlindungan Anak (DPPPA) Kota Bima memberangkatkan M. Omar Qilya Al Rizis, siswa asal SMAN 1 Kota Bima yang mewakili NTB pada ajang Forum Anak Nasional (FAN) di Provinsi Riau 20-22 Juli.

Muhamad Omar Qilya Al Rizis

Lomba Forum Anak tingkat nasional ini merupakan proses seleksi para Duta Anak. Untuk melihat kemampuan anak dalam mengikuti berbagai kegiatan seperti jelajah diskusi, bersosialisasi dengan seluruh peserta duta anak.

“Lomba tersebut peserta akan mengikuti rangkaian kegiatan dan diskusi bersama 500 peserta seluruh Indonesia,” ujar Kepala DPPPA Kota Bima, M. Nor A. Madjid, Kamis (20/7).

Dijelaskannya, FAN diselenggarakan oleh Kementerian Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak (KPP-PA), bekerja sama dengan pemerintah. Dengan harapan, forum anak ini dapat menampung segala bentuk aspirasi dari hati anak-anak.

Sementara tujuan pelaksanaan FAN sebagai wadah penyaluran minat dan bakat. Juga sebagai ajang bagi anak untuk berkreasi dan berprestasi, dengan melakukan hal yanh menyenangkan.

Maka sebagai instansi terkait, yang membidangi perlindungan perempuan dan anak. Mendukung penuh seluruh rangkaian pelaksanaan FAN, yang di ikuti Omar baik moril maupun materil.

“Dukungan maksimal telah kami lakukan, baik berupa pembinaan dan penyediaan keperluan lainnya selama berada di Riau,” bebernya.

Sementara itu M. Omar Qilya Al Rizis yang dimintai tanggapan mengaku bahagia dan bangga atas terpilihnya sebagai duta NTB dalam ajang FAN tingkat Nasional. Bagaimana tidak, dirinya menjadi duta NTB, setelah bersaing lebih 100 peserta di Kota Mataram beberapa waktu lalu.

Setelah menjadi yang terbaik tingkat NTB, dirinya siap melaksanakan setiap agenda kegiatan yang telah ditentukan panitia. Pada akhirnya, seluruh anak yang mengikuti FAN berhak mengajukan pertanyaan kepada Presiden Republik Indonesia Joko Widodo.

“Saya ingin menyampaikan isi hati saya kepada bapak presiden. Terkait sistem zonasi pendidikan yang dinilai banyak merugikan orang tua dan siswa. Karena hanya cocok diterapkan di beberapa daerah saja, bukan secara keseluruhan daerah,” ungkapnya.

*Kahaba-04

Komentari Berita Via Facebook
Komentar adalah tanggapan pribadi, bukan mewakili kebijakan redaksi kahaba.net. Kami berhak mengubah atau tidak menayangkan komentar yang mengandung spam atau kata-kata berbau pelecehan, intimidasi, dan SARA.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *