FKGK: Gelombang Pekerja dari NTT tak Melapor Gereja

Kota Bima, Kahaba.- Ketua Forum Komunikasi Gereja Katolik (FKGK) Bima, Charles Pangaribuan  mengakui adanya gelombang pekerja asal Sumba-NTT, termasuk anak-anak yang masuk ke Kota Bima turut dibahas diinternal FKGK bersama para pendeta setiap pertemuan rutin. (Baca. Gelombang Pekerja Anak dari NTT “Serbu” Kota Bima)

FKGK dan Tokoh Lintas Agama saat diskusi membahas pekerja anak di Sekretariat Lakpesdam NU Bima. Foto: Ady

Hanya saja kata Charles, pihaknya juga mengalami kendala bagaimana mendata dan mengidentifikasi keberadaan warga Sumba yang masuk di Kota Bima. Masalahnya, mereka tidak pernah melapor diri ke gereja-gereja ketika datang.

“Banyak gelombang pekerja dari Sumba dan Timur tidak melapor di Gereja. Hasil survey kami, jumlahnya sekitar 2 ribu lebih kalau diperkirakan ada di Kota Bima. Tapi mereka tidak diketahui tersebar dimana saja,” ungkap dia saat kegiatan Rembug Terbatas membahas persoalan pekerja anak di Sekretariat Lakpesdam PCNU Bima, kemarin.

Kalaupun terdata lanjut dia, akan menjadi anggota dan jamaat gereja. Namun, kalau tidak terdata bisa jadi mereka bukan pemeluk Agama Kristen, tetapi penganut agama kepercayaan, seperti Merapu.

Charles sepakat, perlu ada solusi bersama untuk menyelesaikan persoalan ini dan pemerintah harus ikut andil untuk membantu. Sebab menurutnya, banyak para pekerja dari timur yang dipekerjakan oleh pengusaha toko dengan beban kerja berat tanpa standar upah jelas.

“Beban waktu kerja mereka tidak terpantau, kadang bekerja 7 hari tanpa istrahat dan tidak diberikan waktu ibadah. Belum soal gaji, anak-anak juga dipekerjakan,” terangnya.

Sementara itu, Tokoh Agama Kristen, Pendeta Abraham juga mengaku, keberadaan pekerja asal Sumba-NTT ke Kota Bima tanpa diketahui gereja karena mereka tidak pernah melapor.

“Isu soal kehadiran warga timur memang mencuat. Tapi perlu kami tegaskan bahwa gereja tidak pernah punya niat untuk mengirim orang dari timur ke Kota Bima,” tegas Pimpinan Gereja GBI Rock Kota Bima ini.

Abraham turut menyesalkan, peran pemerintah di Sumba-NTT yang tidak ada untuk melarang pekerja, terutama usia anak untuk ke daerah lain. Terlebih tanpa dibekali kompetensi dan meninggalkan pendidikan mereka.

“Soal anak-anak Sumba, mereka punya Kepala Suku. Tidak semua mereka Kristen, tapi ada juga ada Agama Merapu,” akunya.

Abraham bersyukur ada pihak yang peduli seperti Lakpesdam NU melakukan dialog dengan niat bersama untuk mencari jalan keluar. Karena itu, Ia hadir memenuhi undangan kegiatan agar bisa memberikan penjelasan.

“Saya pribadi sudah 20 tahun di Kota Bima dan menjadi bagian dari warga disini. Saya senang diajak dialog begini kalau ada masalah dan mudah-mudahan ke depan bisa duduk bersama pemerintah,” harapnya.

*Kahaba-03

Komentari Berita Via Facebook
Komentar adalah tanggapan pribadi, bukan mewakili kebijakan redaksi kahaba.net. Kami berhak mengubah atau tidak menayangkan komentar yang mengandung spam atau kata-kata berbau pelecehan, intimidasi, dan SARA.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *