LPA Minta Polisi Selidiki Dugaan Eksploitasi Anak dari NTT

Kota Bima, Kahaba.- Informasi mengenai gelombang pekerja anak dari Sumba-NTT yang datang ke Kota Bima mendapat atensi serius dari Lembaga Perlindungan Anak (LPA). Pihak Kepolisian diminta untuk menyelidiki adanya dugaan ekploitasi anak-anak yang dipekerjakan. (Baca. Gelombang Pekerja Anak dari NTT “Serbu” Kota Bima)

Ketua LPA Kota Bima, Juhriati. Foto: Ady

“Patut dicurigai ada unsur eksploitasi anak yang dilakukan oknum tertentu. Karena itu kami minta Kepolisian untuk menyelediki,” kata Ketua LPA Kota Bima, Juhriati.

Juhriati juga mendesak pemerintah daerah melalui SKPD terkait untuk segera mendata keberadaan anak-anak dari NTT yang diduga dipekerjakan di Kota Bima. (Baca. FKGK: Gelombang Pekerja Dari NTT tak Melapor Gereja)

“Segera data dengan meninjau langsung di tempat-tempat yang diduga kuat mempekerjakan anak,” desak Juhriati melalui siaran pers yang dikirim ke Kahaba.net, Sabtu (22/7).

Dikatakannya, jumlah pekerja anak yang tersebar di Kota Bima harus berbasis data. Untuk itu, LPA akan berkoordinasi dengan Dinas Sosial dan Tenaga Kerja Kota Bima  untuk menindak tegas oknum maupun pelaku usaha yang dengan sengaja mempekerjakan anak.

“Mengacu pada UU Ketenagakerjaan maupun UU Perlindungan Anak siapapun yang dengan sengaja mempekerjakan anak merupakan kejahatan,” tegas dia.

Tak hanya itu, LPA meminta kepada Pemerintah Kota Bima agar sesegara mungkin menyikapi keberadaan anak-anak yang dipekerjakan itu.

Biar bagaimanapun, anak-anak yang hidup dan menetap di Kota Bima tetaplah menjadi tanggungjawab pemerintah untuk memberikan perlindungan, termasuk dalam pemenuhan hak-haknya.

Kata Juhriati, memang harus ada koordinasi Pemerintah Kota Bima dengan Pemerintah NTT untuk menangani masalah ini agar ada penanganan dan solusi tuntas terhadap anak-anak yang diduga dieksploitasi oleh orang-orang yang tidak bertanggungjawab.

*Kahaba-03

Komentari Berita Via Facebook
Komentar adalah tanggapan pribadi, bukan mewakili kebijakan redaksi kahaba.net. Kami berhak mengubah atau tidak menayangkan komentar yang mengandung spam atau kata-kata berbau pelecehan, intimidasi, dan SARA.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *