Bukti Cinta Tanah Air, STIE Expo Usung Tema Bhineka Tunggal Ika

Kota Bima, Kahaba.- STIE Expo tahun ini sangat berbeda dari sebelumnya. Kegiatan tahunan yang digelar Perguruan Tinggi Ekonomi satu – satunya di Bima itu lebih semarak dengan pakaian adat. Ribuan mahasiswa STIE dan jajaran dosen masing – masing mengenakan pakaian adat daerah yang ada di Nusantara.

Jajaran Dosen STIE Bima foto bersama dengan baju adat saat pembukaan STIE Expo. Foto: Bin

Tidak itu saja, civitas akademika STIE Bima sebelum memulai upacara pembukaan STIE Expo juga melakukan pawai keliling. Star dari lapangan Serasuba Kota Bima, mengintari jalur Jalan Soekarno-Hatta, kemudian memutar di Masjid Agung Al Muwahiddin, melewati jalan Gajah Mada dan kembali ke lapangan Serasuba.

Yap, pada STIE Expo tahun 2017 yang digelar di lapangan Serasuba, Jumat (25/8) sore, memang ambil bagian untuk memeriahkan HUT RI ke-72 dan membuktikan rasa cinta kepada tanah air. Adapun tema yang diusung pada kegiatan kali ini yakni Bhineka Tunggal Ika.

Dihadapan ribuan mahasiswa yang berbaris di masing – masing stand expo, Ketua STIE Bima Firdaus dalam sambutannya mengatakan, hari ini Expo STIE Bima mengangkat tema kebinekaan yang saat ini hangat dibicarakan.

“NKRI harga mati. Karena jika diingat sejarahnya, 72 tahun yang lalu para tokoh sejarah dengan susah payah berjuang hingga memproklamasikan kemerdekaan Indonesia,” ujarnya lantang.

Jadi menurut dia, setidaknya saat menyanyikan lagu kebangsaan Indonesia Raya, maka jiwa kebangsaan dan patriotisme harus terbangun dengan sendirinya. Mengingat perjuangan pahlawan yang hidup mati memerdekan negeri.

Ketua STIE Bima Firdaus saat menyampaikan sambutan pada acara STIE Expo tahun 2017. Foto: Bin

“Lagu ini bila dimaknai, meskipun kita dari latar belakang berbeda-beda, tapi kita tetap merupakan satu kesatuan, yaitu Rakyat Indonesia yang selalu mencintai NKRI,” terangnya.

Diakui pria yang bergelar Magister Manajemen itu, STIE Expo telah berjalan selama 10 tahun, digelar diberbagai tempat seperti di Eks Kantor Bupati Bima, Museum ASI Bima dan Lapangan Serasuba Bima. pada tempat tersebut, harus dimaknai sebagai tempat yang menjadi bagian dari sejarah kemerdekaan.

Firdaus juga menjelaskan, apa yang dimiliki sekarang, jangan seperti tikus yang mati di lumbung padi. Rakyat kesulitan beras, padahal negara penghasil beras. Rakyat kesulitan garam, padahal negara adalah produsen garam.

“Inilah yang harus dimaknai dan dikaji semua. Karena fundamental ekonomi dipengaruhi oleh anda-anda sendiri sebagai calon sarjana ekonomi, yang bisa memikirkan itu. Jangan bicara politik, kalau ekonomi kita belum kuat,” sorotnya.

Pada kesempatan itu juga, Firdaus meminta agar semua mahasiswa dan dosen menyukseskan kegiatan Expo STIE. Ketertiban dan keamanannya juga harus dijaga. Agar kegiatan yang mengasah kemampuan wirausaha mahasiswa itu bisa terlaksana dengan baik.

Civitas Akademika STIE Bima saat pawai acara STIE Expo. Foto: Bin

“Prinsip STIE Expo ini merupakan budaya gotong-royong dengan melibatkan semua mahasiswa. Maka secara keilmuan telah menanamkan jiwa wirausaha pada jiwa dan hati mahasiswa,” tuturnya.

Sementara itu, Ketua panitia kegiatan Yulianti Basrin menyebutkan, Expo kali ini diikuti 8 kelompok mahasiswa KKN yang tersebar di Kota Bima, Kabupaten Bima dan Kabupaten Dompu. Dari masing – masing kelompok menampilkan hasil karya yang diperoleh dari daerah KKN.

“Tujuannya STIE Expo untuk memunculkan potensi yang ada di Desa, tempat dimana mahasiswa melaksanakan Kuliah Kerja Nyata (KKN),” terangnya.

*Kahaba-01

Komentari Berita Via Facebook
Komentar adalah tanggapan pribadi, bukan mewakili kebijakan redaksi kahaba.net. Kami berhak mengubah atau tidak menayangkan komentar yang mengandung spam atau kata-kata berbau pelecehan, intimidasi, dan SARA.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *