Kopi Tambora Jadi Potensi Unggulan BUMDes Oi Bura

Kabupaten Bima, Kahaba.- Pemerintah Desa Oi Bura Kecamatan Tambora saat ini mulai menampung hasil panen Kopi Tambora dengan memanfaatkan Badan Usaha Milik Desa (BUMDes). Meskipun belum genap setahun, kopi hasil panen warga yang ditampung sudah mencapai 6 ton.

Kepala Dinas PMDes didampingi Kades Oi Bura saat meninjau Gudang BUMDes penampung Kopi Tambora. Foto: Ady

“Kita sudah siapkan gudang untuk menampung biji Kopi Tambora. Ini akan menjadi potensi unggulan yang akan dikelola BUMDes Oi Bura,” jelas Kepala Desa (Kades) Oi Bura, Wahyudin kepada media online Kahaba.net, kemarin.

Kades mengaku, selama ini Kopi Tambora yang ditanam di atas lahan seluas 400 hektar memang belum terkelola dengan baik. Pengelolaannya masih sangat tradisional, kemudian pasarnya belum mampu menjangkau ke berbagai daerah. Harga jualnya pun masih sangat rendah.

“Dengan adanya BUMDes ini kita harapkan ada perubahan, apalagi ada bantuan dan intervensi dari pemerintah untuk mendampingi warga dan membuka jaringan pasar,” terang dia.

Saat meninjau lokasi BUMDes Oi Bura, Kepala Dinas PMDes Kabupaten Bima, Andi Sirajudin mengakui, tahun depan ini pemerintah daerah akan mulai serius mengelola Kopi Tambora. Bahkan, rencananya sudah ada investor yang akan membantu mengembangkan Kopi Tambora secara profesional.

“Kami di DPMDes dengan Kades Oi Bura sudah sepakat merancang Oi Bura sebagai penghasil Kopi Tambora yang dikelola melalui BUMDes-nya,” kata dia.

Untuk membantu pengembangan itu lanjut dia, akan masuk dana dari pemerintah pusat untuk mengelola Kopi Tambora sebesar Rp1,8 miliar. Targetnya, paling tidak untuk memenuhi kebutuhan pasar lokal dulu. Kalau sudah berkembang maju, diharapkan hasilnya bisa diekspor.

“Sekarang kopinya sudah cukup banyak, bantuan alat juga sudah ada dari kementerian. Saya juga nanti akan mengupayakan bantuan alat lewat Kementerian Desa untuk mengelola kopi,” terang Mantan Kepala Dinas Dukcapil ini.

Pengelolaan Kopi Tambora ini sambung Andi Sirajudin, diyakini akan menyerap tenaga kerja lokal. Warga desa tidak lagi berpikir mencari kerja di tempat lain, tetapi bagaimana warga berpikir memajukan potensi lokal khususnya kopi. Sehingga ke depan Kopi Tambora menjadi trending di NTB.

“Kalau di NTT ada Kopi Flores, maka di NTB ada Kopi Tambora,” tambah dia.

*Kahaba-03

Komentari Berita Via Facebook
Komentar adalah tanggapan pribadi, bukan mewakili kebijakan redaksi kahaba.net. Kami berhak mengubah atau tidak menayangkan komentar yang mengandung spam atau kata-kata berbau pelecehan, intimidasi, dan SARA.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *