Ngotot Ketemu H. Qurais dan H. Arahman, Korban Banjir Tidur di Teras Kantor Walikota

Kota Bima, Kahaba.- Puluhan warga Kelurahan Rabadompu timur dengan bendera Spartan memilih untuk bertahan di kantor Walikota Bima. Para korban banjir yang menagih janji pemerintah itu ingin tetap bertemu dengan Walikota HM. Qurais H. Abidin dan Wakil Walikota Bima H. Arahman H. Abidin. (Baca. Tagih Bantuan Banjir, Warga Rabadompu “Serang” Kantor Walikota Bima)

Warga korban banjir saat tidur di teras kantor Walikota Bima. Foto: Deno

Gagal merangsek masuk di dalam kantor Walikota Bima, karena ditahan puluhan aparat Pol PP dan polisi. Warga memilih untuk tidak beranjak. Bahkan beberapa orang massa tidur di teras kantor setempat, agar bisa segera menemui kelapa daerah.

“Kami tidak mau pulang, biarkan kami tidur disini dan menunggu Pak Wali maupun Pak Wakil menemui kami. Kami korban banjir butuh kejelasan,” ujar Suratmin, warga Rabadompu Timur yang juga menjadi korban saat bencana akhir 2016 lalu.

Kata Suratmin, semua warga yang datang aksi ini merupakan warga yang rumahnya rusak berat dan hanyut. Janji pemerintah membangun rumah warga hingga saat ini belum juga terealisasi.

“Kami ini butuh tempat tinggal. Makanya kami ingin memberitahu Pak Wali dan Pak Wakil. Biar mereka tahu kami ini semakin sengsara setelah banjir,” tegasnya.

Hal yang sama juga disampaikan Abdurrafin. Dirinya juga sudah tidak memiliki rumah, karena sudah hanyut dibawa banjir. Tidak hanya itu, kambingnya sebanyak 15 ekor juga sudah hilang dibawa arus banjir.

“Makanya kami ingin ketemu sama Pak Wali dan Pak Wakil. Biar bisa kami sampaikan semua masalah kami,” katanya.

Mereka menambahkan, meski dipaksa aparat untuk pergi dari Kantor Walikota. Mereka tidak akan beranjak sebelum bertemu dengan kepala daerah tersebut.

“Kami hanya butuh waktu sebentar saja, tidak banyak. Biar pak Wali dan Wakil tahu derita kami,” tambahnya.

*Kahaba-01

Komentari Berita Via Facebook
Komentar adalah tanggapan pribadi, bukan mewakili kebijakan redaksi kahaba.net. Kami berhak mengubah atau tidak menayangkan komentar yang mengandung spam atau kata-kata berbau pelecehan, intimidasi, dan SARA.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *