Tak Pernah di Lokasi, Pendamping Lokal Desa Tambora Diminta Diganti

Kabupaten Bima, Kahaba.- Keberadaan Pendamping Lokal Desa (PLD) sejatinya dapat membantu menguatkan kapasitas masyarakat dan perangkat desa dampingan dalam proses perencanaan pembangunan di desa. Mereka juga diharapkan dapat memastikan penggunaan dana desa tepat sasaran.

Kepala Desa Rasabou, Sarujin Yakub. Foto: Ady

Namun di 7 desa Kecamatan Tambora, peran dan kinerja semua PLD justru tidak pernah dirasakan masyarakat. Pasalnya, mereka tidak pernah berada di lokasi desa dampingan sejak ditempatkan dua tahun terakhir.

“Kalaupun mereka datang hanya sekali-sekali saja. Itupun datangnya hanya minta data. Untuk Pendamping Desa-nya (PD) masih lumayan aktiflah,” kata Kepala Desa Rasabou, Sarujin Yakub kepada Kahaba.net, Minggu (17/9) kemarin di Tambora.

Sarujin mengaku, selama ini tidak pernah merasakan peran PLD dalam membantu pembinaan perangkat desa. Begitu juga perannya di masyarakat, tidak pernah terlibat dalam kegiatan apapun.

“Kami minta segera dievaluasi dan diganti. PLD yang ditempatkan ke Tambora harusnya yang paham wilayah, dekat dengan masyarakat dan kalau bisa orang Tambora,” ujarnya.

Keluhan soal keberadaan PLD juga disampaikan aparat Desa Oi Bura, Ayatullah. Ia mengaku, selama dua tahun terakhir tidak pernah bertemu dengan PLD. Minimal salah satu dari 4 PLD yang ditugaskan.

“Nama mereka saja saya tidak tahu. Silahkan tanyakan ke masyarakat kami, apa yang sudah dilakukan PLD selama ini, tidak ada,” ujar Kaur Desa Oi Bura ini.

Menurutnya, PLD yang ditempatkan di Tambora hanya menghabiskan uang negara. Manfaat dari pendamping yang direkrut Kementerian Desa ini tidak pernah dirasakan masyarakat dan aparat desa.

“Kalau alasannya jarak itu tidak rasional. Resiko pengabdian dan tugas begitu. Toh tanpa pendamping desa, tugas-tugas kita tetap berjalan dengan baik,” kata Ayatullah.

Hal senada disampaikan Sekdes Kawinda To’i, Ade Armansyah. Diakuinya, baik PD maupun PLD hanya menjalankan tugas administrasi saja. Tidak ada peran lain yang dirasakan masyarakat Tambora.

“Saya kira semua desa di Tambora sama, kalau bicara apa peran pendamping desa. Kalau mau efektif, harusnya tempatkan warga asli Tambora yang paham wilayah,” ujar dia.

*Kahaba-03

Komentari Berita Via Facebook
Komentar adalah tanggapan pribadi, bukan mewakili kebijakan redaksi kahaba.net. Kami berhak mengubah atau tidak menayangkan komentar yang mengandung spam atau kata-kata berbau pelecehan, intimidasi, dan SARA.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *