BEM STIH Muhammadiyah Bima Sorot Pekerjaan Normalisasi Sungai

Kota Bima, Kahaba.- Badan Eksekutif Mahasiswa (BEM) STIH Muhammadiyah Bima menggelar aksi sorot pekerjaan normalisasi sungai di depan Kantor Walikota Bima, Kamis (19/10). Menurut massa aksi, pekerjaan normalisasi sungai tidak dilakukan maksimal, tapi lebih mementingkan pekerjaan drainase.

BEM STIH Muhammadiyah Bima saat aksi didepan kantor Walikota Bima. Foto: Bin

Saat aksi itu, mahasiswa meminta pemerintah tidak setengah setengah menormalisasi sungai. Karena ditakutkan memasuki musim hujan, maka air sungai akan meluap dan menggenangi rumah warga.

“Banjir kemarin itu bikin sengsara. Jangan sampai banjir kembali hadir dan menghantam semua pemukiman warga karena sungai yang tidak diperbaiki dengan maksimal,” jelas salah seorang massa aksi saat menyampaikan orasi.

Menurut mahasiswa, pemerintah sekarang lebih banyak memperbaiki drainase. Membongkar semua saluran air di jalan raya dan pemukiman, namun mengabaikan perbaikan sungai. Padahal banjir meluap dari sungai. Kalau pun sungai dikerjakan, tidak dilakukan secara menyuruh, dari hulu ke hilir.

Untuk itu, pihaknya menduga ada kepentingan – kepentingan terselubung dari pekerjaan tersebut. Apalagi dikaitkan dengan kepentingan Pilkada yang sebentar lagi akan dilaksanakan di Kota Bima.

“Melihat pekerjaan yang tidak serius ini, kami menduga ada kepentingan lain yang mengabaikan pekerjaan normalisasi sungai,” duganya.

Ketua BEM STIH Muhammadiyah Rustam mendesak pemerintah agar memprioritaskan pekerjaan normalisasi sungai. Agar banjir di tahun ini tidak kembali terjadi seperti tahun sebelumnya.

“Anggaran untuk normalisasi sungai puluhan miliar. Pemerintah jangan main – main menangani nasib rakyat yang sudah trauma karena banjir bandang yang menghantam sebanyak 4 kali,” desaknya.

*Kahaba-01

Komentari Berita Via Facebook
Komentar adalah tanggapan pribadi, bukan mewakili kebijakan redaksi kahaba.net. Kami berhak mengubah atau tidak menayangkan komentar yang mengandung spam atau kata-kata berbau pelecehan, intimidasi, dan SARA.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *