HMI Lempar Kantor Pemkab dengan Bawang dan Pestisida

Kabupaten Bima, Kahaba.- Puluhan kader dan pengurus Himpunan Mahasiswa Islam (HMI) Cabang Bima melempar Kantor Pemerintah Kabupaten Bima dengan bawang merah dan botol pestisida, Senin (23/10) siang.

Massa HMI saat melempar bawang dan pestisida ke halaman kantor Pemkab Bima. Foto: Ady

Aksi itu merupakan bentuk ekspresi protes dan kekecewaan mahasiswa terhadap anjloknya harga bawang merah di Kabupaten Bima. HMI menilai pemerintah daerah tidak mampu mengintervensi gejolak harga bawang merah yang telah merugikan petani melalui kebijakan dan regulasi.

Ratusan bawang merah dan botol pestisida berserakan di pintu masuk Kantor Pemerintah Kabupaten Bima. Ketegangan antara mahasiswa dan Pol PP sempat terjadi akibat pelemparan ini. Pagar pintu masuk juga nampak rusak didorong mahasiswa.

Ketua HMI Cabang Bima Fitriani mengatakan, mahasiswa hadir bersama masyarakat petani Kabupaten Bima untuk memperjuangkan hak. Pihaknya menyorot harga bawang merah menurun drastis, disisi lain harga obat dan pupuk naik 2 kali lipat.

“Ini sama saja dengan menindas petani. Pemerintah daerah harus bersikap,” desaknya.

HMI juga kata Fitriani, meminta pemerintah daerah menyusun regulasi berupa Perbup atau Perda untuk menetapkan harga standar bawang merah di Kabupaten Bima, supaya tidak merugikan petani.

Para mahasiswa ditemui Asisten II Setda Pemkab Bima, Nurdin mewakili Bupati yang berhalangan karena sedang mengikuti rapat persiapan MTQ bersama Sekda.

Nurdin mengatakan, Dinas Pertanian tetap berupaya mendatangkan komoditas unggulan nasional di daerah. Sementara bawang merah hanya tercatat sebagai komoditas unggulan lokal.

Penyebabnya jelas dia, produksi bawang merah masih sangat sedikit secara nasional dibandingkan dengan kebutuhan nasional sehingga tidak mampu ditutupi produksi bawang merah Bima.

“Lalu jenapa anjlok harganya? Orang Bima dalam manajemen memang bagus. Bahkan mengantar dan menjual sendiri sampai ke luar daerah. Tetapi kualitas bawang kita masih kalah bersaing,” ujar dia.

Jika melihat suplai bawang yang masuk di pasar Kota Surabaya sambungnya, bawang merah yang beredar adalah bawang merah pilihan. Semua sudah disortir dengan memperhatikan besar dan kualitasnya.

“Tapi di Bima tidak begitu, bawangnya campur yang besar maupun kecil. Walaupun bawang tidak bisa diatur harganya. Namun kita sedang pelajari kemungkinan membuat regulasinya,” tandas dia.

*Kahaba-03

Komentari Berita Via Facebook
Komentar adalah tanggapan pribadi, bukan mewakili kebijakan redaksi kahaba.net. Kami berhak mengubah atau tidak menayangkan komentar yang mengandung spam atau kata-kata berbau pelecehan, intimidasi, dan SARA.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *