Krisis Air Bersih, Keluhan Utama Warga Oi Fo’o ke Dewan

Kota Bima, Kahaba.- Sebanyak 500 Kepala Keluarga (KK) di Kelurahan Oi Fo’o Kecamatan Raba tahun ini kembali merasakan krisis air bersih. Persoalan klasik ini terus berulang tanpa ada penanganan serius dari pemerintah daerah.

Reses Anggota DPRD Kota Bima Dapil III di Kelurahan Oi Fo’o. Foto: Ady

Keluhan ini disampaikan warga Oi Fo’o kepada 9 Anggota DPRD Kota Bima Dapil III pada kunjungan reses masa sidang III, Selasa (24/10) sore.

“Kami selalu kesulitan air bersih setiap tahun. Makanya kami meminta kepada Anggota Dewan Dapil III agar memperjuangkan penanganan jangka panjang air bersih untuk warga Oi Fo’o,” kata H Rajak, perwakilan warga.

Ironisnya, menurut pengakuan warga lain terdapat satu RT di Oi Fo’o yang sudah bertahun-tahun hanya mengandalkan mata air dari lobang kecil di belakang perkumiman. Untuk mengambilnya warga harus menunggu berjam-jam karena harus diangkut lagi menggunakan ember.

“Kasihan warga kami pak, sama sekali tidak ada pilihan lain untuk kebutuhan air. Bantuan pembuatan bak air dulu hanya dari Pak Nazamudin, itupun mulai rusak,” ujar Ridwan, warga lainnya saat menyampaikan aspirasi.

Keluhan lain yang tak kalah pelik di Oi Fo’o yakni mengenai ketersediaan ambulan. Warga merasa kesulitan mengantar keluarga yang sakit maupun melahirkan ke rumah sakit karena tidak ada kendaraan.

Ada juga yang melaporkan kesulitan minyak tanah karena tidak ada agen maupun pengecer di Oi Fo’o. Warga terpaksa hanya mengadalkan kayu bakar setiap hari untuk memasak karena sulitnya mendapatkan minyak tanah.

Kemudian aspirasi lain, soal jaringan telekomunikasi, kesulitan pupuk bagi petani, pemagaran SMPN 15 Kota Bima, pemagaran kuburan, lapangan olahraga SDN 53 Kota Bima dan pengaspalan gang di permukiman warga.

Menanggapi soal krisis air, Duta PKPI, Nazamudin mengatakan, memang persoalan tersebut bukan hanya dialami warga Oi Fo’o. Namun, hampir disemua lokasi kunjungan reses juga mengeluhkan hal yang sama.

“Kemarin misalnya di Nggaro Nangga Kelurahan Kendo, saking sulitnya air warga terpaksa konsumsi air parit di sawah untuk berbagai kebutuhan,” ujarnya.

Krisis air menurut dia, tahun ini terjadi secara merata di Kota Bima. Sehingga untuk penanganan pihaknya akan membahas secara khusus dengan pemerintah daerah melalui SKPD tehnis.

“Untuk penanganan awal kami tetap akan bantu perjuangkan di APBD 2018, terutama untuk RT 09 Lingkungan Wangge,” janji Nazamudin.

Hal senada disampaikan Edy Ihwansyah. Duta PPP ini menilai, harus diupayakan bor air dalam untuk penanganan jangka panjang supaya warga Oi Fo’o tidak kesulitan air lagi.

“Kami akan segera koordinasikan dengan dinas tehnis,” ujar dia.

Untuk masalah ambulan, Taufikurrahman dari PDIP mengatakan, pihaknya pernah berkoordinasi dengan Dinas Kesehatan menindaklanjuti aspirasi warga Oi Fo’o sebelumnya. Hanya saja, memang tidak penempatan khusus di kelurahan maupun kecamatan.

“Sebetulnya Ambulan itu standby di kantor, ketika dibutuhkan bisa langsung dihubungi. Memang belum ada pengadaan ke pelosok. Namun kita tetap mendesak agar ini menjadi catatan penting pemerintah daerah,” terangnya.

Soal permintaan pembuatan pagar untuk SMPN 15, Taufikurrahman berjanji akan memperjuangkannya pada tahun anggaran 2018. “Kalau belum masuk di RKA dinas kita akan masukan,” janjinya.

*Kahaba-03

Komentari Berita Via Facebook
Komentar adalah tanggapan pribadi, bukan mewakili kebijakan redaksi kahaba.net. Kami berhak mengubah atau tidak menayangkan komentar yang mengandung spam atau kata-kata berbau pelecehan, intimidasi, dan SARA.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *