Maarif Institute Diskusi Buku Jihad, Khilafah dan Terorisme di Bima

Kota Bima, Kahaba.- Lembaga Maarif Institute Jakarta menggelar diskusi buku tentang berjudul Reformulasi Ajaran Islam, Jihad, khilafah dan Terorisme di Aula Kantor FKUB Kota Bima, Sabtu (11/11).

Diskusi buku yang digelar Maarif Institute di Aula Kantor FKUB Kota Bima, Sabtu pagi. Foto, Ady

Kegiatan ini menghadirkan narasumber Muhammad Abdullah Darraz (Direktur Maarif Institute), Zuly Qodir (Peneliti Senior Maarif Institute), Ustad H Falahuddin (Ketua PW Muhammadiyah NTB) dan H Eka Iskandar (Ketua PD Muhammadiyah Kota Bima). Dibuka oleh Walikota Bima yang diwakili Plt Setda Kota Bima, H Muhtar Landa.

Sedangkan peserta diskusi mengundang para tokoh Ormas Islam, Majelis Ulama Indonesia Kota Bima, organisasi kemasyarakatan dan pemuda, organisasi wanita Islam dan tokoh organisasi yang dianggap radikal di Bima.

Ketua FKUB Kota Bima yang juga Ketua PD Muhammadiyah Kota Bima, H Eka Iskandar dalam pengantarnya mengajak kepada segenap komponen masyarakat untuk merajut keakraban dengan duduk bersama.

Semua Ormas Islam di Bima kata dia, sepakat Kota Bima harus tetap aman dan kondusif apapun yang terjadi di luar daerah. Antar ormas harus memperkuat aqidah atau pegangan untuk membangun kekuatan besar melawan banyak tantangan yang dihadapi ke depan.

Sementara itu Plt Sekda Kota Bima, H Muhtar Landa dalam sambutannya mengatakan, tema jihad, khilafah, dan terorisme memang terus menjadi topik hangat sejak kejadian penyerangan menara kembar WTC di Amerika pada September 2001 silam.

Lepas dari berbagai konspirasi tentang peristiwa itu kata dia, kejadian tersebut mengubah wajah politik dunia dan juga sangat berdampak pada pandangan dunia terhadap Islam. Doktrin dan inti ajaran Islam sering disalahpahami tak hanya oleh kalangan umat agama lain yang kemudian melahirkan Islamfobia. Namun juga oleh umat Islam itu sendiri.

“Akibat dari pemahaman yang keliru tersebut, Islam terkesan sebagai agama yang menakutkan dan menyebarkan teror dan radikalisme yang mengatasnamakan Islam,” tuturnya.

Disisi lain lanjutnya, persoalan ekonomi juga menjadi salah satu alasan bergabungnya para pemuda dalam sebuah jaringan radikal atau kelompok teroris. Sebab orang yang merasakan kesusahan dan merasa sebagai objek ketidakadilan ekonomi biasanya rentan mengalami frustrasi.

Pada saat bersamaan terkadang terkadang mereka mendapatkan legitimasi dari doktrin agama yang dipahami sekilas untuk melakukan tindakan teror. “Maka mudah-mudahan melalui diskusi buku ini dapat mengurai kekeliruan pemahaman yang berkembang dan dapat mencerahkan masyarakat tentang makna ajaran Islam sebenarnya,” harapnya.

*Kahaba-03

Komentari Berita Via Facebook
Komentar adalah tanggapan pribadi, bukan mewakili kebijakan redaksi kahaba.net. Kami berhak mengubah atau tidak menayangkan komentar yang mengandung spam atau kata-kata berbau pelecehan, intimidasi, dan SARA.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *