Maarif Institute Sebut Konsep Khilafah Bukan dari Islam

Kota Bima, Kahaba.- Buku Reformulasi Ajaran Islam, Jihad, khilafah dan Terorisme yang diterbitkan Maarif Institute dibahas di Aula Kantor FKUB Kota Bima, Sabtu (11/11) pagi. Salah satu poin utama dalam buku ini meluruskan kekeliruan pemahaman konsep khilafah yang dijadikan doktrin kelompok radikal selama ini. (Baca. Maarif Institute Diskusi Buku Jihad, Khilafah dan Terorisme di Bima)

Direktur Maarif Institute, Muhammad Abdullah Darraz. Foto: Ady

Direktur Maarif Institute, Muhammad Abdullah Darraz mengatakan, pesan yang ingin disampaikan buku tersebut bahwa Indonesia sudah selesai tentang konsep ketatanegaraan. Soal negara, bangsa dan konstitusi itu seharusnya tidak lagi diganggu gugat.

“Disitu kita sudah bersepakat bahwa Pancasila dijadikan sebagai dasar dalam kehidupan berbangsa dan bernegara,” jelasnya usai kegiatan diskusi.

Poin kedua jelas Darraz, Maarif Institute ingin mengedukasi masyarakat bahwa konsep khilafah yang selama ini dipromosikan oleh ormas tertentu yang tidak khas nasional atau transnasional keliru. Dalam hal ini ISIS dan HTI.

Khilafah itu menurutnya, sebagai konsep politik bukan berasal dari Islam. Selama ini ada konsep khilafah, tetapi tidak berbicara konsep atau teori politik. Khilafah dalam Islam itu adalah khilafah secara konsep teologis, yakni bagaimana tanggungjawab kita sebagai manusia mengelola kehidupan yang ada di bumi ini, mengelola keseimbangan antara manusia dan alam.

“Itu sebetulnya konsep khilafah yang harus kita pahami. Bukan khilafah sebagai konsep politik dan ketatanegaraan. Itu dijelaskan dalam buku,” paparnya.

Pihaknya mengeritik kalau ada yang menafsirkan bahwa khilafah sebagai konsep politik. Sebab Nabi Muhammad pun tidak pernah mencotohkan khilafah. Sebab khilafah dianggap sebagai fenomena pasca Rasulullah wafat.

“Khilafah itu esensinya mengganti. Pergantian itu seharusnya bukan dalam hal politik. Karena yang muncul kala itu adalah pergantian tribalistik, kemimpinan politik yang kesukuan,” urainya.

Ia mencotohkan, kaum Muhajirin saat itu yang merasa sebagai kaum terbaik tidak mau kalau yang memimpin mereka berasal dari kaum Ansor usai Nabi wafat.

“Pertanyaannya, lalu dimana persaudaraan Islam saat itu, karena masing-masing menonjolkan kesukuannya,” kata dia.

Darraz melanjutkan, diskusi serupa bukan hanya digelar di Bima. Sebelumnya sudah dilaksanakan di Surakarta dan Bandung. Rencananya akan dilaksanakan juga di Ambon dan Poso sebagai rangkaian tour Indonesia timur.

“Nanti itu, kita juga akan ke Medan dan beberapa kota lainnya. Sebenarnya ini pertama kali di launching di Jakarta di PP Muhammadiyah,” ujarnya.

Intinya sambung dia, Maarif Institute ingin mensosialisasikan apa yang menjadi pemikiran dan pandangan cendekiawan muslim Indonesia yang moderat terkait dengan konsep jihad, khilafah dan terorisme.

“Kami ingin memberikan pemahaman yang komprehensif tentang doktrin kunci yang selama ini disalahpahami oleh kelompok teroris dan radikal. Yakni soal konsep Jihad, Khilafah dan Hijrah. Kemudian al walla wal barra. Itu soal doktrin sektarianisme dan fanatisme dalam kelompok Islam,” tuturnya.

*Kahaba-03 

Komentari Berita Via Facebook
Komentar adalah tanggapan pribadi, bukan mewakili kebijakan redaksi kahaba.net. Kami berhak mengubah atau tidak menayangkan komentar yang mengandung spam atau kata-kata berbau pelecehan, intimidasi, dan SARA.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *