FKUB Terus Perkuat Kerukunan Antar Umat Beragama

Kota Bima, Kahaba.- Kondusifitas daerah tidak bisa dipungkiri merupakan tanggungjawab semua pihak untuk merawatnya. Faktor penting yang mutlak harus dijaga diantaranya adalah kerukunan antar umat beragama.

Kegiatan rutin FKUB Kota Bima, Coffee Moorning bersama tokoh lintas agama. Foto, Ady.

Hal ini menjadi fokus Forum Kerukunan Umat Beragama (FKUB) Kota Bima dengan mengadakan pertemuan rutin bersama tokoh lintas agama dalam bentuk coffee moornig. Seperti dilaksanakan, Rabu (29/11) pagi di Aula Kantor FKUB Kota Bima.

“Tujuan pertemuan rutin ini tak lain sebagai upaya untuk terus memperkuat kerukunan antar umat beragama di Kota Bima yang selama ini terjalin dengan baik,” jelas Ketua FKUB Kota Bima, H Eka Iskandar Z.

Ketua FKUB mengatakan, pertemuan rutin dengan tokoh lintas agama juga bertujuan mendiskusikan isu-isu yang diperkirakan akan mengganggung keharmonisan hubungan antar umat beragama. Melalui diskusi bersama diharapkan dapat diurai dan dicarikan solusi terbaik.

“Kita sudah sepakat, apapun yang terjadi di daerah lain tidak boleh terjadi di daerah kita. Kemudian apa yang terjadi di daerah kita wajib duduk bersama mencarikan solusi dengan dialog maupun diskusi seperti ini,” paparnya.

Wakapolres Bima Kota, Kompol Yusup Tauzirin yang hadir mewakili Kapolres Bima Kota mengatakan, dua hal yang perlu menjadi atensi bersama saat ini adalah bagaimana mengikis radikalisme dan menjaga keharmonisan umat beragama.

Ia mencontohkan ketika bertugas di Poso beberapa waktu lalu, situasi keamanan terganggu akibat berhembus isu berbau sara yang dilakukan pihak tidak bertanggungjawab. Isu itu menyebabkan kerusuhan sehingga mengakibatkan semua pihak banyak mengalami kerugian.

“Ada korban nyawa, harta benda, bahkan sampai sekarang masih tersisa rumah-rumah yang hancur. Ini bermula dari isu sara. Kita bisa belajar dari Poso dan berharap ini tidak terjadi di Bima,” ujar Perwira yang 10 tahun bertugas di Sulawesi Tengah ini.

Perwakilan dari MUI Kota Bima, H Ahmad Mahmud, menjaga kerukunan antar umat beragama bisa dilakukan dengan berbagai cara. Salah satunya melalui peran tokoh agama dan para da’i agar menyampaikan ajaran agama dengan hikmah dan kebijaksanaan.

“Jangan sekali-sekali menyinggung politik praktis. Namun jika ada masalah politik yang erat kaitan dengan pokok agama harus disampaikan. Misalnya suap-menyuap. Masyarakat harus diberikan pemahaman oleh para da’i dan tokoh agama agar tidak melakukan perbuatan tercela ini,” ujarnya.

Menurutnya, suasana kerukunan yang sudah terjalin dengan baik selama ini harus dijaga dan dirawat. Meskipun masyarakat Bima menganut Agama Islam hampir 99 persen dan 1 persen agama lain, tetapi selama ini tidak pernah ada masalah apa-apa.

“Karena itu harapan kita bersama, kondisi ini terus dijaga. Bima harus aman, tentram dan tetap berjalan kondusif,” tandasnya.

*Kahaba-03 

Komentari Berita Via Facebook
Komentar adalah tanggapan pribadi, bukan mewakili kebijakan redaksi kahaba.net. Kami berhak mengubah atau tidak menayangkan komentar yang mengandung spam atau kata-kata berbau pelecehan, intimidasi, dan SARA.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *