Kembalikan Bima Damai, Harus Ada Usaha Kolektif

Kabupaten Bima, Kahaba.- Konflik antar kampung dan kekerasan sosial maupun kekerasan berbasis agama yang kerap terjadi bukanlah mencerminkan wajah daerah Bima sebenarnya. Stigma negatif itu diyakini bisa dihapus dengan upaya kolektif mengembalikan wajah daerah Bima seperti dulu.

Ketua Tim Pendamping Nusatenggara Centar (NC), Kadri. Foto: Istimewa

Demikian disampaikan Ketua Tim Pendamping Nusatenggara Centar (NC), Kadri kepada Kahaba.net usai menghadiri talkshow di Studio Bima TV di Perumahan Penatoi, Kelurahan Penatoi Kecamatan Mpunda, Senin (4/12) malam.

Menurutnya, wajah Bima yang bagus ke depan adalah wajah Bima seperti dulu. Bima yang sudah dikenal sebagai daerah terbuka, memiliki tingkat plurasitas luar biasa, dari segi agama dan keyakinan. Namun semua itu berjalan biasa-biasa saja, tidak ada yang saling membunuh atau saling mengklaim, tetapi mengedepankan sikap toleran.

“Kita ingin sejarah-sejarah baik soal itu, bisa kita wariskan ke depan sehingga anak muda dan generasi kita generasi yang cinta damai,” ujar pria yang juga Akademisi UIN Mataram ini.

Caranya bagaimana kata Kadri, yakni dengan usaha kolektif. Pertama dalam pendidikan keluarga harus ditekankan bagaimana orangtua memastikan anak mendapatkan pelajaran ajaran agama yang baik, toleran dan rahmatan lil aalamin, bukan membenci apalagi membunuh yang lain.

“Organisasi sosial keagamaan, seperti NU, Muhammadiyah dan Persis harus kita dorong sebagai organisasi keagamaan yang bisa mengawal pelajaran agama itu menjadi pelajaran agama yang rahmatan lil aalamin,” terangnya.

Kemudian di lingkungan sosial kemasyarakatan lanjutnya, harus didorong bagaimana tumbuh dan berkembangnya kajian-kajian Islam yang benar dan cinta damai. Di sekolah pun harus seperti itu. Pendidikan di sekolah harus bisa mengawal generasi kita menjadi generasi yang toleran dan cinta damai ke depan.

Bila usaha-usaha kolektif ini sudah maksimal dilakukan, Kadri yakin bahwa masa depan Bima akan selalu diwarnai dan ditumbuhi oleh generasi-generasi yang tidak lagi direpotkan dengan persoalan konflik, tidak lagi disibukkan dengan membunuh generasi yang lain. Tetapi menjadi generasi yang bisa memberikan konstribusi yang baik untuk kehidupan bangsa, daerah dan agama.

“Harus dimulai dari mana? Kalau berdasarkan usia, perbaikan itu memang harus dilakukan sejak usia dini, mulai dari pendidikan usia dini, baik TK, PAUD dan keluarga itu benar-benar harus ditanamkan nilai-nilai toleransi dan inklusifitas. Karena bila anak itu ditanamkan dengan nilai inklusifitas maka dia akan tumbuh menjadi generasi yang baik,” tuturnya.

Generasi yang ditanamkan pemahaman sejak dini menurut pria yang menyandang gelar Doktor itu, memiliki tingkat imun dan kekuatan untuk menolak segala jenis provokasi yang terkait dengan ekstrimisme, radikalisme dan ekslusivisme. Sebab dari kecil sudah ditanamkan tentang menghargai perbedaan dan mencintai sesama.

“Terhadap kelompok dewasa, mereka harus terus kita ingatkan. Kalau pun susah kita ingatkan kita terus perkuat saja generasi mudanya,” sambung dia.

Kadri menambahkan, sebagai ikhtiar Nusatenggara Center saat ini telah membentuk forum Remaja Cinta Damai (Recida) sebagai pendorong awal gerakan cinta damai. Ia menyadari tidak mungkin hal-hal seperti ini akan terus dilakukannya, mengingat keterbatasan waktu, keterbatasan tenaga dan anggaran.

“Yang paling penting itu adalah bagaiamana hal-hal seperti ini terbangun atas kesadaran masyarakat sendiri dan pemerintah harus bisa membantu upaya-upaya seperti ini karena mereka yang punya rakyat,” tandasnya.

*Kahaba-03

Komentari Berita Via Facebook
Komentar adalah tanggapan pribadi, bukan mewakili kebijakan redaksi kahaba.net. Kami berhak mengubah atau tidak menayangkan komentar yang mengandung spam atau kata-kata berbau pelecehan, intimidasi, dan SARA.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *