10 Petugas BKSDA Hadang di Pintu Kawasan, Peserta Trabas HMQ Series 2 Tetap Gas

Kota Bima, Kahaba.- Berbagai upaya sudah dilakukan BKSDA NTB SKW III Bima-Dompu untuk memperingatkan panitia trabas HMQ 2 Series 2 Days, namun tak diindahkan. Terakhir, pihak yang berwenang menjaga dan mengurus kawasan konservasi cagar alam Toro Mbala atau Pantai Pink itu menghadang peserta trabas di pintu masuk kawasan. (Baca. Persiapan Jelajah Alam HMQ Series 2 Terus Dimantapkan)

Kepala BKSDA NTB SKW III Bima-Dompu Bambang Dwidarto. Foto: Bin

BKSDA NTB SKW III Bima-Dompu Bambang Dwidarto mengungkapkan, sesuai dengan tanggungjawab dan tugas, sebelum hari pelaksanaan pihaknya sudah melakukan berbagai upaya, koordinasi dan terus mengingatkan kepada panitia agar jalur trabas bisa dirubah. (Baca. Trabas HMQ Series 2 di Toro Mbala Akan Merusak Ekosistem Kawasan Cagar Alam)

Namun, upaya tersebut tidak diindahkan oleh panitia penyelenggara. Tidak berhenti sampai disitu, pada hari pelaksanaan, petugas BKSDA sebanyak 10 orang juga stand by di pintu masuk kawasan dan mencegat peserta trabas untuk melewati jalur kawasan. (Baca. Satwa Kawasan Toro Mbala Terancam, Trabas HMQ Series 2 tidak Dibenarkan)

“10 orang petugas kita menghadang dan melarang. Kemduian menyampaikan kepada peserta bahwa jalur yang ingin dimasuki merupakan konservasi cagar alam. Tapi jawaban peserta tidak tahu dan tetap melewati jalur tersebut,” ungkapnya, Selasa (5/12).

Selaku pelaksana tugas yang diberikan kewenangan untuk menjaga kawasan tersebut kata Bambang, malam hari setelah acara melaprokan ke pimpinan yang lebih tinggi di Provinsi NTB. saat itu juga, pimpinannya menyarankan untuk membuat surat keberatan kepada panitia pelaksana.

“Surat keberatan sudah kami sampaikan kepada panitia. Tinggal nanti pimpinan kami yang akan menindaklanjuti ke Walikota Bima dan Bupati Bima,” katanya.

Menurut Bambang, trabas tersebut tentu berdampak pada ekosistem yang ada di kawasan tersebut. Kedatangan ratusan kendaraan memiliki juga memiliki efek untuk makhluk hidup di wilayah kawasan.

“Daerah itu tempat bertelurnya penyu, tempat turun minumnya rusa, dan kawasan itu sensitif. Kenapa cagar alam itu dibiarkan secara alami, karena kondisi sosial ekologinya harus tetap terus terjaga,” jelasnya.

Satwa yang ada disana juag sambungnya dilindungi. Kenapa demikian, karena populasinya sudah mulai sedikit. jika ratusan motor masuk tentu akan sangat menganggu populasinya.

Bambang juga menyebutkan, BKSDA NTB SKW III Bima-Dompu memiliki kewenangan untuk menjaga dan mengelola 4 kawasan konservasi di Bima dan Dompu. 2 berstatus cagar alam masing – masing berada di cagar alam Toffo Lambu dan cagar alam Sangiang. Sementara 2 taman wisata yakni berada di Madapangga dan taman wisata Satonda.

“Kalau bisa, nanti jika ada rencana trabas lagi. Jangan memilih jalur yang sudah ditetapkan sebagai kawasan cagar alam dan taman wisata,” sarannya.

Ia menambahkan, pihaknya bukan tidak mendukung kegiatan promosi wisata yang digelar oleh pemerintah. Namun aturannya juga jangan diabaikan.

Sementara itu, panitia kegiatan yang berusaha dikonfirmasi soal itu tidak berada di kantornya. Pegawainya  mengaku yang bersangkutan sedang berada di luar daerah.

*Kahaba-01

Komentari Berita Via Facebook
Komentar adalah tanggapan pribadi, bukan mewakili kebijakan redaksi kahaba.net. Kami berhak mengubah atau tidak menayangkan komentar yang mengandung spam atau kata-kata berbau pelecehan, intimidasi, dan SARA.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *