Blokade Jalan Dibuka, Nasib Pengungsi Godo Memprihatinkan

Kabupaten Bima, Kahaba.-  Dua titik utama yang menjadi pusat blokade jalan di Dusun Godo, Desa Dadibou, Kabupaten Bima sudah dibuka total pada pukul 18.00 Wita. Anggota TNI, Kepolisian, dan sejumlah tokoh masyarakat bersama warga Godo membongkar barikade jalan yang menutup akses jalur lintas Bima-Sumbawa tersebut. Sementara itu, kondisi warga yang menjadi korban penyerangan masih memprihatinkan.

Blokade jalan di Dusun Godo telah dibuka. Foto: Yayikke Yusuf

Sumber Kahaba di dusun Godo, Suaeb (50 tahun) mengungkapkan, proses pembongkaran blokade sendiri awalnya berlangsung cukup alot. Sebelumnya, warga tetap bersikukuh menutup jalan hingga pemerintah turun tangan dan membantu kesulitan yang dialami masyarakat yang kehilangan tempat tinggal.

Melalui upaya lobi dan proses musyawarah bersama, sejumlah tokoh masyarakat, pemerintah, kepolisian dan TNI, bersama warga dengan kesadaran penuh, menyepakati membongkar sendiri barikade yang dipasang di bagian barat dan timur jalan negara itu. “Tadi sore tepat pukul enam masyarakat dan pemuda akhirnya membuka sendiri blokade jalan,” ujarnya.

Hingga hari kedua pasca tragedi Godo, kondisi dusun secara umum dilaporkan kondusif. Sejumlah personil Kodim Bima, Koramil Woha, Brimob dan Polantas Polres Bima masih terlihat berjaga di beberapa titik.  Sebagian masyarakat sudah kembali ke rumahnya, sementara sebagian lainnya masih bertahan di rumah sanak keluarganya di dusun dan desa tetangga.

Lanjut Suaeb, pemerintah sempat menghimbau warga yang rumahnya terbakar total untuk sementara bermalam di tenda darurat yang disediakan oleh BNPBD hingga keadaan benar-benar aman. Namun menurutnya, kendati disediakan sentra pengungsian, banyak warga lebih memilih membangun tenda-tenda darurat di bekas rumahnya yang terbakar.

Lebih lanjut Ia menambahkan, kondisi warga Godo sekarang sangat membutuhkan uluran tangan seluruh pihak. Untuk saat ini, hal yang paling penting dibutuhkan warga selain tempat tinggal adalah pakaian dan peralatan masak. Anak-anak Godo juga masih kesulitan untuk bersekolah akibat terbakarnya seragam dan perlengkapan sekolahnya. “Anak-anak kami sangat membutuhkan seragam sekolah, buku-buku, sepatu, dan alat tulis. Itu untuk anak SD sampai SMA,” jelas Suaeb.

Harapan masyarakat ini tentunya harus segera diatensi oleh seluruh pihak. Musnahnya lebih dari 90 rumah akibat konflik antar warga tersebut tentunya akan berdampak pada kualitas hidup warga Godo, khususnya anak-anak mereka yang masih harus menempuh pendidikan untuk masa depannya. [BQ]

Komentari Berita Via Facebook
Komentar adalah tanggapan pribadi, bukan mewakili kebijakan redaksi kahaba.net. Kami berhak mengubah atau tidak menayangkan komentar yang mengandung spam atau kata-kata berbau pelecehan, intimidasi, dan SARA.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *