Di SDN 11 Kota Bima, Diduga Ada Jual Beli Rapor

Kota Bima, Kahaba.- Meski Pemerintah Kota Bima telah terus mensosialisasikan stop Pungutan Liar (Pungli), namun praktek itu tidak bisa dihapus di daerah ini. Malah tumbuh subur, terutama di dunia pendidikan.

SDN 11 Kota Bima. Foto: Eric

Seperti terjadi di SDN 11 Kota Bima. Salah satu sekolah unggulan ini diduga melakukan jual-beli rapor kepada siswa. Masing-masing siswa dimintai uang untuk membeli rapor sebesar Rp 50.000. Dugaan pungli tersebut disampaikan salah seorang wali murid berinisial AM, kepada sejumlah media, Selasa (5/12).

“Saya kaget ketika anak saya meminta uang Rp50.000 untuk membayar rapor di sekolah. Karena sepengetahuan saya rapor diberikan gratis oleh sekolah dan itu menjadi kewajiban sekolah bukan siswa,” ujar AM.

Dirinya selaku wali murid merasa heran atas biaya pembayaran rapor. Padahal setahu dia, itu merupakan kewajiban sekolah. Apalagi sekarang sudah ada dana BOS yang membiayai.

“Dana BOS sudah ada, kenapa masih dibebankan pada siswa, inikan aneh,” katanya heran.

Sementara itu, Kepala SDN 11 Kota Bima, Sri Hariningsih yang dikonfirmasi mengakui adanya permintaan uang Rp 50.000 ke masing-masing siswa. Hanya saja dirinya membantah jika uang tersebut untuk membayar rapor. Tetapi untuk membayar sampul rapor yang dipesan olehnya dari salah seorang wartawan di Kota Bima.

“Itu bukan uang untuk bayar rapor, karena rapor diberikan gratis oleh sekolah. Uang tersebut untuk membeli sampul rapor. Sampul rapor itu kita pesan di wartawan juga kok,” bebernya.

Ketika ditanyakan kembali, kenapa harga sampul rapor lebih mahal dari harga bukunya, Kasek mengaku bahwa sampul rapor tersebut dipesan dari pimpinan media mingguan di Kota Bima inisial berinisial S dan sudah disepakati harganya Rp50.000.

“Datang saja ke sekolah besok, kita bicarakan di sekolah. Karena saya baru sampai rumah,” tandasnya.

*Kahaba-04

Komentari Berita Via Facebook
Komentar adalah tanggapan pribadi, bukan mewakili kebijakan redaksi kahaba.net. Kami berhak mengubah atau tidak menayangkan komentar yang mengandung spam atau kata-kata berbau pelecehan, intimidasi, dan SARA.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *