Program Bedah Rumah di Desa Rada Mandek, Pemerintah Turun Tinjau

Kabupaten Bima, Kahaba.- Polemik program BSPS atau yang dikenal Bedah Rumah terus berkembang. Pasalnya hingga Desember 2017, rumah-rumah di Desa Rada yang masuk dalam program tersebut, masih banyak yang belum selesai dikerjakan.

Pemerintah saat turun tinjau progres program bedah rumah di Desa Rada. Foto: Yadien

Bahkan, belum bisa ditempati lantaran mandeknya bahan yang disalurkan oleh toko penyuplai material. Serta sulitnya masyarakat mendapatkan informasi soal material, lantaran fasilitator pendamping program BSPS di Desa Rada yang sulit dihubungi.

Menyikapi itu, Kabid Perumahan Dinas Perumahan dan Pemukiman Kabupaten Bima Syaifullah, bersama Koordinator Fasilitator Pendamping Kabupaten Bima dan sejumlah pendamping fasilitator desa, meninaju dan memeriksa progres pembangunan dan kendala yang menyebabkan terhambatnya program itu, Sabtu (09/12).

Kata Syaifullah, berdasarkan hasil pemeriksaannya dengan tim ditemukan masih banyak rumah masyarakat penerima bantuan yang belum selesai dikerjakan dan belum bisa ditempati.

“Dari hasil wawancara dengan masyarakat, terhambatnya pembangunan di Desa Rada karena bahan bangunan yang dibutuhkan masyarakat belum sepenuhnya diberikan,” ungkapnya.

Syaifulah berjanji akan mendesak semua pihak yang memiliki tanggungjawab program BSPS tersebut, untuk segera menyesaikannya sebelum batas waktu pengerjaan.

“Batas waktu pengerjaanya sampai akhir  Desember 2017 ini,” sebutnya.

Sementata itu, Fasilitator Pendamping BSPS Desa Rada Ilham, membenarkan masih banyak hak masyarakat dalam bentuk material bangunan yang belum disalurkan.

Ia pun berjanji akan segera berkoordinasi dengan toko penyuplai material agar segera menyalurkan.

“Kami akan selesaikan dan carikan solusi secepatnya,” janjinya.

*Kahaba-10

Komentari Berita Via Facebook
Komentar adalah tanggapan pribadi, bukan mewakili kebijakan redaksi kahaba.net. Kami berhak mengubah atau tidak menayangkan komentar yang mengandung spam atau kata-kata berbau pelecehan, intimidasi, dan SARA.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *