Doa Mengenang Mendiang Sultan Bima Ferry Zulkarnaen, Dinda Berurai Airmata

Kabupaten Bima, Kahaba.- Mengenang 4 tahun wafatnya mantan Bupati Bima yang juga Sultan Bima H Ferry Zulkarnaen, Bupati Bima Hj Indah Dhamayanti Putri menggelar acara doa di Pandopo Bima, Jumat (22/12).

Bupati Bima didampingi keluarga saat menyampaikan sambutan. Foto: Bin

Kegiatan tersebut dihadiri Walikota Bima HM Qurais H Abidin, jajaran FKPD, para ulama, pejabat Lingkup Pemkab Bima, tokoh masyarakat dan tokoh agama.

Bupati Bima Hj Indah Dhamayanti Putri saat menyampaikan sambutan tak kuasa menahan tangis. Beberapa kali saat menyampaikan sosok suaminya dihadapan undangan, air matanya jatuh dan membasahi pipi.

Menurut Dinda, begitu ia biasa disapa, mantan Bupati Bima itu merupakan sosok yang sangat membanggakan bagi keluarga Sultan Muhammad Abdul Kahir. Tidak hanya bagi dirinya selaku istri dan anak-anaknya. Tapi juga seluruh keluarga, juga sahabat beliau dan warga Kabupaten Bima.

“Kita meyakini beliau sudah tidak ada di tengah – tengah kita. Walaupun tangan tak lagi menjabat, mata tak lagi menatap, tapi Insya Allah hati masih merasakan ada nya kehadiran beliau,” ucapnya dengan derai airmata.

Dirinya berharap, semoga hal – hal baik yang pernah diajarkan suaminya, bisa diikuti dan dijalankan bersama. Karena tidak ada kebahagiaan yang paling besar yang bisa digambarkan saat ini, selain mengingat kebaikannya dan mendoakan agar di tempatkan di surga Allah SWT.

“Semoga semua hal baik yang dilakukan beliau, dan doa yang dipanjatkan hari ini. Mengantarkannya untuk berada di tempat terbaik disisi Allah SWT,” pintanya.

Bupati Bima pada kesempatan itu juga menyampaikan ucapan terimakasih yang tak terhingga kepada undangan yang hadir. Semoga segala harapan yang dipanjat pada kegiatan tersebut dikabulkan oleh Allah SWT.

*Kahaba-01

Komentari Berita Via Facebook
Komentar adalah tanggapan pribadi, bukan mewakili kebijakan redaksi kahaba.net. Kami berhak mengubah atau tidak menayangkan komentar yang mengandung spam atau kata-kata berbau pelecehan, intimidasi, dan SARA.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *