Dana PIP SDN Inpres 1 Kananga Disunat, Kasek Ngaku Untuk Pagar Sekolah

Kabupaten Bima, Kahaba.- Puluhan siswa yang mendapatkan bantuan dana Program Indonesia Pintar (PIP) di SDN Inpres 1 Kananga diduga dipotong oleh kepala sekolah setempat. Besar dana yang disunat masing-masing siswa sebanyak Rp 100 ribu.

Kepala SDN Inpres 1 Kananga Ahmad M Saleh. Foto: Yadien

Orang tua siswa Alimin menyampaikan, anaknya mendapatkan bantuan PIP sebesar 450 ribu rupiah. Namun pihak sekolah uang bantuan tersebut dipotong Rp 100 ribu.

“Anak saya hanya terima Rp 350 ribu rupiah. Karena semua siswa dipotong masin-masing Rp 100 ribu,” ungkapnya, beberapa waktu lalu.

Menurut Alimin, sebelumnya ia pernah memerotes karena pemotongan itu dinilai terlalu besar. Tapi, dibantah kepala sekolah dan sejumlah guru.

“Yang dipotong itu terlalu banyak,” sorotnya.

Di tempat berbeda, Kepala SDN Inpres 1 Kananga Ahmad M Saleh membenarkan adanya pemotongan tersebut. Kata dia, pemotongan dilakukan untuk membangun pagar samping sekolah. Pemotongan itupun sudah disepakati semua wali murid, dengan jumlah siswa yang mendapatkan bantuan PIP sebanyak 38 siswa.

“Tadi sebelum uang dibagikan, kami sudah melakukan rapat dengan semua wali murid,” ujarnya.

Ditanya soal regulasi yang memperbolehkan pemotongan bantuan PIP untuk pembangunan sekolah, Ahmad mengaku tidak tahu ada regulasinya atau tidak. Namun, pemotongan itu sudah melalui munsyawarah dan disepakati untuk pembuatan pagar sekolah.

“Orang tua siswa sendiri sepakat sumbangan Rp 100 ribu itu untuk membuat pagar sekolah,” katanya.

Dulu tambahnya, ia pernah mengajukan proposal untuk pembuatan pagar sekolah ke Pemda. Namun sampai sekarang belum ada kabarnya.

“Karena melihat keadaan sekolah yang begini, ya orang tua siswa menyumbangkan dengan ikhlas,” tambahnya.

*Kahaba-10

Komentari Berita Via Facebook
Komentar adalah tanggapan pribadi, bukan mewakili kebijakan redaksi kahaba.net. Kami berhak mengubah atau tidak menayangkan komentar yang mengandung spam atau kata-kata berbau pelecehan, intimidasi, dan SARA.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *