Hasil Uji Lab, Pasien Suspect Asal Bolo Negatif Difteri

Kabupaten Bima, Kahaba.- Warga Kecamatan Bolo inisial F (30) yang sempat dinyatakan suspect penyakit Difteri dipastikan negatif terjangkit penyakit menular tersebut. Hal ini diketahui berdasarkan hasil uji laboratorium dari sampel yang dikirim ke Kota Surabaya oleh Dinas Kesehatan Kabupaten Bima.

Kasi Pengamatan dan Pencegahan Penyakit Bidang P2PL Dikes Kabupaten Bima H Ibnu Jubair. Foto: Bin

“Kami sudah terima informasi dari Dinas Kesehatan Provinsi NTB, alhamdulillah hasil uji sampelnya negatif Difteri. Secara resmi hasil pengujian itu akan dikirim ke daerah,” jelas Kasi Pengamatan dan Pencegahan Penyakit Bidang P2PL Dikes Kabupaten Bima H Ibnu Jubair, Rabu (27/12).

Diakuinya, hingga kini tidak ada identifikasi baru pasien suspek Difteri. Sebagai upaya pencegahan, upaya sosialisasi secara intens terus dilakukan kepada masyarakat. Baik melalui puskesmas maupun tenaga penyuluh kesehatan yang tersebar di Kabupaten Bima.

“Pencegahan dini bisa dilakukan melalui imunisasi secara rutin bagi balita. Imunisasi juga bisa dilakukan kepada wanita dewasa dan ibu hamil agar kekebalan tubuhnya makin kuat,” kata dia.

Pihaknya mengimbau kepada masyarakat, bila ada gejala menyerupai difteri seperti sakit tenggorokan, bengkak tenggorokan, batuk, pilek, ada bintik putih keabuan di dalam rongga mulut dan tenggorokan agar segera memeriksakan ke dokter atau puskesmas.

“InsyaAllah kalau cepat ditangani, penyakit ini bisa diobati melalui pemberian antibiotik,” ujarnya.

Ia menambahkan, difteri merupakan penyakit menular disebabkan bakteri Corynebacterium diphtheriae. Penyebaran bakteri ini dapat terjadi dengan mudah, terutama bagi orang yang tidak mendapatkan vaksin difteri.

Ada sejumlah cara penularan yang perlu diwaspadai, seperti terhirup percikan ludah penderita di udara saat penderita bersin atau batuk. Ini merupakan cara penularan difteri yang paling umum. Barang-barang yang sudah terkontaminasi oleh bakteri, contohnya mainan atau handuk. Sentuhan langsung pada luka borok (ulkus) akibat difteri di kulit penderita. Penularan ini umumnya terjadi pada penderita yang tinggal di lingkungan yang padat penduduk dan kebersihannya tidak terjaga.

*Kahaba-03

Komentari Berita Via Facebook
Komentar adalah tanggapan pribadi, bukan mewakili kebijakan redaksi kahaba.net. Kami berhak mengubah atau tidak menayangkan komentar yang mengandung spam atau kata-kata berbau pelecehan, intimidasi, dan SARA.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *