Tak Ada Guna, Petani Minta DAM Kodo Dirobohkan

Kota Bima,  Kahaba.- Pembangunan DAM di wilayah Lampe dan Kodo terus disorot petani setempat. Pasalnya, bangunan itu tidak sesuai tujuan hajatan awal. Lahan petani justru bertambah rusak karena dihantan arus air.

Kondisi DAM Kodo yang merusak pertanian warga. Foto: Istimewa

Petani setempat pun meminta agar proyek yang dinilai gagal itu dirobohkan, karena tak ada manfaatnya untuk petani. Malah, memunculkan masalah baru.

Petani Kodo A Wahab mengaku, proyek itu gagal diurus bukan karena cuaca. Sebab, DAM lama dulu yang dibangun saat musim hujan, tetap selesai dan bermanfaat bagi pengairan pertanian. Sementara  DAM baru yang dibangun sebaliknya, area pertanian warga rusak akibat diterjang air luapan sungai.

“Air sungai bukannya mengalir ditengah DAM, tapi justru keluar ke area pertanian. Tentu apa yang kami tanam rusak dan tidak bisa diselamatkan. Jadi sebaiknya DAM itu dirobohkan saja, dari pada tak ada guna,” kesalnya.

Wahab menyorot, sayap DAM dibangun sama tingginya dengan persawahan warga. Bentuk yang salah diperencanaan tersebut tentu membuat air meluap.

“Logikanya bagaimana, padahal belum banjir, air di DAM sudah meluap ke persawahan. Sementara tujuan dibangun DAM untuk penampung dan menahan air,” sorotnya.

Petani lain H Idris  juga menyampaikan hal yang sama. Saat ini malah pihaknya mendengar informasi pihak ketiga sudah tidak mau melanjutkan pekerjaan DAM tersebut. Sementara dibeberapa titik bangunan DAM sudah jebol.

Dirinya pun menilai baru proyek DAM kali ini perencanaannya tak konsultasi dengan kelompok tani yang ada.  Padahal petani yang tahu persis volume air,  debit air baik saat musim kemarau maupun saat musim hujan.

“DAM bukannya bermanfaat tetapi merusak lahan pertanian sekitarnya. Lihat saja, belum apa-apa air sudah meluap ke bagian kiri dan kanan sayap DAM. Bagaimana kalau banjir, tentu akan meluas kerusakan lahan pertanian warga,” ungkapnya.

Idris menambahkan, pekerjaan DAM itu jadi bukti jika perencanaan dan pengerjaannya dilakukan asal-asalan dan buang-buang anggaran. Jika perbaikannya terus ditunda, maka akan banyak lahan pertanian yang rusak.

*Kahaba-01

Komentari Berita Via Facebook
Komentar adalah tanggapan pribadi, bukan mewakili kebijakan redaksi kahaba.net. Kami berhak mengubah atau tidak menayangkan komentar yang mengandung spam atau kata-kata berbau pelecehan, intimidasi, dan SARA.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *