Dinilai Arogan, Ruang Kepala SMPN 6 Disegel

Kota Bima, Kahaba.- Sejumlah guru SMPN 6 Kota Bima menyegel ruang kepala sekolah setempat, Rabu (10/1) karena dinilai arogan dan sering mengambil keputusan sepihak tanpa menggelar rapat bersama dewan guru.

Ruangan Kepala SMPN 6 Kota Bima Disegel. Foto: Eric

Selain dituding bersikap otoriter dan anti kritik. Pegawai setempat juga melaporkan dugaan mark up rehab pembangunan dua rombel kelas senilai Rp 275 juta.

“Kami menyegel ruang kepala sekolah, karena kami nilai sudah tidak mampu memimpin. Bersikap arogan dan tidak mau membicarakan semua masalah sekolah dengan guru,” ungkap guru A Madjid didampingi Harisah, H Yusuf, H Hafid, dan Hj Siti Hajar.

Dijelaskan Madjid, yang lebih membuat guru setempat tidak menghargai sikap kepala sekolah yakni, mengajukan surat permohonan mutasi terhadap sejumlah guru yang menurutnya dinilai tidak sejalan dalam membangun visi dan misi sekolah.

“Apa dasar nama kami diusulkan mutasi, salah kami apa dan apa alasannya,” tanyanya.

Guru lain Harisah menjelaskan, isi surat permohonan mutasi itu berisi tuduhan yang tidak benar dan jauh dari kebenaran. Bahkan dirinya beserta guru lain siap difasiltasi oleh Dikbud, untuk bertemu langsung dengan kepala sekolah. Agar semua masalah terang dan transparansi.

Harisah melanjutkan, isi surat mutasi yang membuatnya keberatan diantaranya ada kalimat suka memprovokassi guru dan siswa, lalu tidak proaktif dan tidak mau bekerjasama dalam membangun dan mengembangkan fungsi dan peran sekolah. Kemudian iklim kerja yang dibuat tidak kondusif, kelebihan guru IPS dan IPA serta malas mengajar.

“Semua tuduhan tersebut sangat tidak mendasar dan tidak benar adanya,” tegas Harisah.

Hal lain sambungnya, tindakan yang dinilai lebih merugikan sekolah adalah dana OSIS sudah tidak dikucurkan lagi. Sehingga menghentikan  kegiatan organisasi siswa untuk meningkatkan kreativitas dan prestasi. Karena selama ini, berkat OSIS kegiatan intra dan ekstrakuler siswa berjalan dengan baik. Juga terbukti ratusan piala dan piagam penghargaan dari tingkat daerah, provinsi hingga nasional telah diraih

“Sikap arogan ini tentu membuat seluruh kegiatan siswa macet total dan prestasi sekolah mulai mengalami penurunan,” tuturnya.

Lalu terkait dugaan mark up pembangunan rehab 3 rombel itu yang bersumber dari dana Blogrand sebesar Rp 275 juta itu, diceritakan oleh sumber yang meminta namanya di inisialkan. Bahwa selama pekerjaan berlangsung, kepala sekolah terkesan tertutup melakukan pembukuan bersama bendahara sekolah. Bahkan selama proses pekerjaan sejak awal, tidak ada sosialisasi dan rapat laporan penggunaan anggaran bersama seluruh guru.

Dana blogrand itu menurut AN, dikerjakan swakelola dan melibatkan jajaran sekolah sehingga ada saling percaya. Tapi hanya juteru dikerjakan bertiga, antara kepala sekolah, bendahara dan panitia. Bahkan kuat dugaan, ada beberapa item SPJ fiktif yang dilakukannya, sebab 3 Rombel itu hanya berubah warna saja, sedangkan bangunannya tidak ada yang berubah.

Sementara itu Kepala Sekolah SMPN 6 Kota Bima Arif Wahidin yang coba dimintai klarifikasi justeru tidak datang ke sekolah. Bahkan awak media menunggu hingga 3 jam, tidak muncul di sekolah. Sehingga dihubungi via seluler melalui telepon langsung dan sms, tidak ditanggapi.

Justeru ketua panitia pembangunan 3 rombel berhasil ditemui, yaitu Rasyd yang dimintai tanggapan mengaku bahwa permasalahan kepala sekolah dan guru setempat itu bukan ranahnya. Tapi terkait pembangunan 3 rombel, itu dibantah adanya mark up. Sebab telah dikerjakan sesuai dengan spek, dan item pekerjaan.

“Pekerjaan telah rampung, hasilnya juga telah diperiksa oleh tim teknis Provinsi dan Dikbud, dan semuanya tidak ada kendala,” tandasnya.

*Kahaba-04

Komentari Berita Via Facebook
Komentar adalah tanggapan pribadi, bukan mewakili kebijakan redaksi kahaba.net. Kami berhak mengubah atau tidak menayangkan komentar yang mengandung spam atau kata-kata berbau pelecehan, intimidasi, dan SARA.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *