Walikota Bima Resmikan Rumah Panggung Mitigasi Bencana

Kota Bima, Kahaba.- Untuk mempermudah koordinasi dan komunikasi serta memberikan informasi tentang situasi bencana, Pemerintah Kota Bima meresmikan rumah panggung mitigasi bencana di Kelurahan Dara Kecamatan Rasanae Barat, Selasa (23/1).

Foto bersama Direktur Pengurangan Resiko Bencana BNPB Pusat, FPRB, BPBD Kota Bima, anggota TSBK dan masyarakat setempat. di rumah mitigasi bencana. Foto: Eric

Hadir dalam agenda tersebut, Walikota Bima HM Qurais H Abidin, Direktur Pengurangan Resiko Bencana BNPB Pusat Lilik Kurniawan, Ketua FPRB Kota Bima Anwar Arman, Kepala BPBD Kota Bima H Sarafuddin, serta anggota TSBK dan masyarakat setempat.

Pada kesempatan menyampaikan sambutan, Walikota Bima menyampaikan ucapan terimakasih atas segala perhatian dan bantuan dari BPBD Provinsi NTB, BNPB Pusat yang telah banyak membantu penanggulangan bencana banjir bandang Desember tahun 2016 lalu. Mulai dari tahap evakuasi, distribusi logistik, pembersihan hingga masa rehab rekon.

Ia mengungkapkan, penanggulangan bencana saat ini menjadi upaya dari pemerintah dan stakeholder untuk mengurangi resikonya. Dengan membangun berbagai fasilitas penunjang yang memadai guna memantau situasi dan kondisi di lapangan, termasuk rumah panggung mitigasi bencana.

“Dengan dibangunnya rumah mitigasi bencana ini, maka akan terbangun masyarakat yang tangguh dan partisipatif, yang memiliki kemampuan mandiri untuk beradaptasi dan menghadapi bencana,” katanya.

Sementara itu Direktur Pengurangan Resiko Bencana BNPB Pusat Lilik Kurniawan mengungkapkan, inisiasi dibangunnya rumah mitigasi bencana tersebut merupakan bagian dari program mitigasi struktural partisipatif. Sebab, Kota Bima masuk kategori daerah rawan bencana.

“Berdasarkan kejadian tersebut, maka BNPB Pusat bersama BPBD menginisiatif membangun rumah mitigasi bencana ini. Agar dapat memantau setiap kondisi dan perkembangan yang terjadi, dan melaporkan kepada masyarakat,” bebernya.

Dalam membangun rumah mitigasi bencana tersebut kata dia, pemerintah melibatkan organisasi dan elemen masyarakat, baik itu TSBK, FTSB dan masyarakat setempat. Itu dilakukan, agar dapat membangun semangat kebersamaan semua pihak dalam membantu pengurangan resiko bencana.

“Dulu masyarakat menjadi objek yang tidak berdaya dalam menghadapi bencana yang terjadi, maka kami ingin merubah paradigma tersebut. Karena masyarakat itu bisa kuat dan menjadi penolong bagi yang lain,” tambahnya.

*Kahaba-04

Komentari Berita Via Facebook
Komentar adalah tanggapan pribadi, bukan mewakili kebijakan redaksi kahaba.net. Kami berhak mengubah atau tidak menayangkan komentar yang mengandung spam atau kata-kata berbau pelecehan, intimidasi, dan SARA.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *