Kepala SMKN 1 Minta Bendahara Kembalikan Dana PIP

Kota Bima, Kahaba.- Kepala SMKN 1 Kota Bima Syafruddin akhirnya memberikan klarifikasi soal pemotongan dana PIP oleh bendahara sekolah senilai Rp 200 ribu. Dirinya pun sudah menghubungi bendahara yang masih berada di luar daerah. (Baca. Dana PIP di SMKN 1 Disunat, Orang Tua Siswa Ngeluh)

Kepala SMKN 1 Kota Bima Syafruddin. Foto: Eric

Diakui Syafruddin, dana Rp 100 ribu untuk pembangunan musholla sudah melalui rapat komite  dan telah disetujui bersama dengan walimurid. Dari hasil sumbangan dana pembangunan musholla tersebut, telah terkumpul sebesar Rp 30 juta.

“Tapi hingga saat ini uangnya belum dipegang oleh panitia pembangunan, karena menunggu bendahara pulang dari luar daerah,” ujarnya, Kamis (25/1). .

Kemudian terkait sumbangan Rp 100 ribu lainnya, kata Syafrudin berdasarkan pengakuan bendahara berdasarkan keikhlasan, untuk biaya tambahan penggunaan anggaran penunjang bagi pegawai dan membantu pekerjaan sekolah.

Tapi setelah konsultasi dengan beberapa Wakasek, dana keikhlasan Rp 100 ribu sudah terkumpul Rp 2,5 juta. Karena tidak ada sosialisasi sebelumnya, dirinya perintahkan bendahara untuk mengembalikan kembali kepada siswa.

“Uang itu sudah saya suruh bendahara kembalikan ke siswa,” katanya.

Mantan Kepala SMAN 1 Kota Bima itu mengungkapkan, polemik pemotongan PIP ini diketahui berdasarkan informasi yang didapat dair sejumlah pegawai di sekolah. Untuk menyelesaikan, dirinya telah berkoordinasi dan komunikasi dengan kepala sekolah sebelumnya. Guna mengetahui kebenaran, dan tindakan apa yang harus dilakukan.

“Karena saya baru menjabat, dugaan pungli ini tetap akan saya tindaklanjuti melalui rapat sekolah. Memanggil seluruh Wakasek, bendahara dan walimurid untuk mendengarkan langsung laporan penggunaan anggaran dana sekolah,” jelasnya.

*Kahaba-04

Komentari Berita Via Facebook
Komentar adalah tanggapan pribadi, bukan mewakili kebijakan redaksi kahaba.net. Kami berhak mengubah atau tidak menayangkan komentar yang mengandung spam atau kata-kata berbau pelecehan, intimidasi, dan SARA.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *