Wakapolres: Pelajar Harus Contoh Semangat Soekarno

Kota Bima, Kahaba.- Bapak Proklamator Soekarno yang juga Presiden pertama Republik Indonesia telah memberikan teladan dan contoh bagaimana semangat memperjuangkan kemerdekaan Indonesia. Jiwa nasionalisme dan semangat kebangsaan Soekarno itu harus terus ditumbuhkan sejak dini di kalangan pelajar agar mencintai tanah air.

Soekarno

Pesan ini disampaikan Wakapolres Bima Kota Kompol Yusuf Tauziri saat mengisi seminar 4 Pilar Kebangsaan yang digelar FKUB Kota Bima bekersama dengan Anggota DPR RI Dapil NTB H Muhammad Syafrudin, Kamis (8/2) pagi.

Menurut Wakapolres, sejarah telah mencatat banyak gerakan nasional dipelopori anak muda. Seperti gerakan Budi Utomo, Sumpah Pemuda, Peristiwa Rengasdengklok sampai Proklamasi Kemerdekaan RI.

“Maka para pelajar dan anak muda saat ini perlu mengambil semangat tokoh muda kebangsaan kita dulu untuk mengisi kemerdekaan dengan belajar giat,” ujarnya.

Sebagai bangsa yang besar kata dia, kita harus menyukuri telah dianugerahi Tuhan Yang Maha Esa mempunya tanah air yang kaya, negera yang merdeka dan pemimpin kita yang berjiwa nasionalis religius, seperti dicontohkan Soekarno.

“Nilai kebangsaan harus diingatkan terus, begitu juga nilai-nilai Pancasila. Bukan hanya pemerintah yang mengaplikasikannya tetapi semua warga Negara Indonesia, termasuk pelajar,” jelasnya.

Nilai-nilai Pancasila bukan sekedar dijadikan simbol, apalagi hanya berkoar ‘Saya Pancasila, Saya NKRI’, tetapi harus betul-betul diterapkan dalam kehidupan berbangsa dan bertanah air.

Sebab nilai-nilai Pancasila diambil dari nilai-nilai agama dan budaya masyarakat Indonesia. Pancasila juga bukan sebuah barang baru apalagi dianggap sebagai berhala, tetapi di dalamnya terkandung nilai-nilai yang selaras dengan agama dan budaya Indonesia.

Kemudian nilai Bhineka Tunggal Ika sambungnya, pelajar dapat memetik pelajaran bahwa perbedaan di Indonesia merupakan anugerah dan kekayaan bangsa yang harus dirawat sebagai kekuatan.

“Jangan karena perbedaan suku, agama, budaya dan adat istiadat lantas menjadi alasan kita untuk berpecah belah,” pesannya.

*Kahaba-03

Komentari Berita Via Facebook
Komentar adalah tanggapan pribadi, bukan mewakili kebijakan redaksi kahaba.net. Kami berhak mengubah atau tidak menayangkan komentar yang mengandung spam atau kata-kata berbau pelecehan, intimidasi, dan SARA.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *